
Illustrasi AHPND (Sumber: Lopez et al., 2021)
Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND) adalah penyakit infeksi yang menyerang organ hepatopankreas udang. AHPND juga dikenal sebagai Early Mortality Syndrome (EMS) karena kerap menjadi penyebab kematian massal hingga 100% pada fase awal budidaya udang yaitu 10 hingga 35 hari setelah tebar (DOC 10-35), meskipun dapat terjadi pada fase budidaya selanjutnya. AHPND termasuk penyakit serius yang tergolong berbahaya karena dapat menyebabkan kerugian ekonomi secara signifikan.
Apa yang menyebabkan kemunculan AHPND?
Penyebab utama AHPND adalah bakteri Vibrio strain V. parahaemolyticus yang membawa gen pirA dan pirB pada plasmid virulensi pVA. Toksin PirAB merusak sel hepatopankreas melalui efek perusakan jaringan dan pelepasan sel dari epitel hepatopankreas. Selain itu, faktor lingkungan menjadi faktor pendukung munculnya AHPND, antara lain sebagai berikut:
- Air yang masuk ke tambak yang sudah terkontaminasi beserta organisme seperti udang liar yang ikut pada air masuk dapat menjadi pembawa penyakit
- udang yang mati akibat AHPND atau udang yang terinfeksi dapat menjadi media penyebaran ke udang yang sehat
- Induk udang yang sudah terinfeksi penyakit dapat menurunkan penyakit ke keturunanannya, hal ini berhubungan dengan hatchery yang tidak bersih
- Bakteri penyebab AHPND tumbuh subur jika manajemen dasar air kolam buruk (banyak akumulasi sisa pakan/lumpur organik), pH cenderung tinggi, dan salinitas air tinggi (>20 ppt).
Bagaimana gejala yang muncul dari penyakit AHPND?
Gejala yang umum muncul ketika udang terserang AHPND meliputi sebagai berikut:
- Hepatopankreas menjadi pucat dan lembek
- Saluran pencernaan tampak kosong
- Nafsu makan menurun
- Pertumbuhan udang menjadi lambat/tidak bertumbuh
- Udang berbalik dan tenggelam ke dasar dengan perut menghadap ke atas
Pada tahap awal infeksi AHPND, bakteri menyerang hepatopankreas udang sehingga organ tersebut mulai mengalami kerusakan. Akibatnya, hepatopankreas berubah menjadi pucat dan lembek karena jaringan tidak lagi berfungsi normal.
Seiring menurunnya fungsi hepatopankreas, kemampuan udang dalam mencerna dan menyerap nutrisi ikut terganggu. Kondisi ini menyebabkan nafsu makan udang mulai menurun. Udang terlihat pasif dan respons makan menjadi lebih lambat dibanding kondisi normal.
Karena konsumsi pakan menurun dan proses pencernaan terganggu, saluran pencernaan tampak kosong. Pada fase ini, energi yang diperoleh udang menjadi sangat terbatas sehingga pertumbuhan mulai melambat atau bahkan berhenti.
Apabila infeksi terus berkembang, kondisi tubuh udang semakin melemah, dan dapat berujung pada kematian. Siklus ini dapat menyebar secara massal ke udang, dan dapat menyebabkan kematian massal.
Jika terdapat tanda-tanda AHPND, apa yang harus dilakukan?
Berikut langkah-langkah yang harus dilakukan apabila terdapat ciri-ciri kemunculan AHPND pada tambak:
- Amati nafsu makan, kondisi hepatopankreas, dan mortalitas udang.
- Kurangi stres udang dengan menjaga kualitas air tetap stabil dan mengurangi aktivitas di tambak.
- Bersihkan dasar kolam dari bangkai udang dan sisa organik sesering mungkin untuk memutus rantai kanibalisme udang sehat terhadap udang mati yang terinfeksi.
- Berikan Probiotik dosis tinggi dengan aplikasi probiotik jenis Bacillus yang dikombinasikan dengan fermentasi molase untuk mendominasi lingkungan air kolam dan menekan laju replikasi bakteri patogen.
- Ambil sampel udang yang terindikasi penyakit untuk proses laboratiorium/PCR untuk memastikan infeksi AHPND.
- Perketat biosekuriti dengan membatasi perpindahan alat maupun air antar kolam.
- Apabila mortalitas harian sudah terlalu tinggi dan umur udang sudah menuju ukuran pasar, maka dianjurkan melakukan panen sesegera mungkin guna mencegah angka kematian yang lebih besar.
Kesimpulan
AHPND merupakan penyakit serius pada budidaya udang yang menyerang hepatopankreas dan dapat menyebabkan kematian tinggi dalam waktu singkat. Karena udang yang sudah terinfeksi secara klinis hampir mustahil untuk diobati, kunci utama keberhasilan budidaya mutlak bertumpu pada langkah pencegahan sejak dini melalui penerapan biosekuriti ketat, penggunaan benur bersertifikat SPF, pembersihan dasar kolam (siphoning) secara rutin, serta dominasi bakteri baik menggunakan probiotik berkala. Apabila ada indikasi AHPND, maka pencegahan sedini mungkin harus dilakukan, dan tidak ragu untuk melakukan uji PCR/laboratorium.
Sumber:
Australian Government Department of Agriculture, Water and the Environment. (2020). Acute hepatopancreatic necrosis disease (AHPND). In Aquatic animal diseases significant to Australia: identification field guide (5th ed.). Australian Government. https://www.agriculture.gov.au/sites/default/files/documents/acute-hepatopancreatic-necrosis-disease.pdf
Lopez, Gabriela & Alvarez-Ruiz, Pindaro & Silvia, Luna-Suárez & Luna, Antonio & Esparza-Leal, Héctor & Claudia, Castro & Gamez, Carina & Soto-Alcalá, Jorge. (2021). Temperature and salinity modulate virulence and PirA gene expression of Vibrio parahaemolyticus, the causative agent of AHPND. Aquaculture International. 29. 10.1007/s10499-021-00654-0.
World Organisation for Animal Health (WOAH). (2023). Acute hepatopancreatic necrosis disease. In Manual of diagnostic tests for aquatic animals (Chap. 2.2.1). WOAH. https://www.woah.org/fileadmin/Home/fr/Health_standards/aahm/current/2.2.01_AHPND.pdf



