White Feces Disease (WFD): Waspada Kotoran Putih di Tambak, Tanda Usus Udang Sedang Diserang!

Illustrasi WFD (Sumber: Global Seafood Alliance; Snurairanata 2014 dalam Techna)


White Feces Disease (WFD) adalah penyakit sindrom pencernaan pada udang yang ditandai dengan munculnya untaian kotoran (feses) berwarna putih yang mengambang di permukaan air tambak. Penyakit ini menyerang organ hepatopankreas dan saluran usus udang.

Meskipun WFD jarang menyebabkan kematian massal secara mendadak seperti AHPND atau WSSV, penyakit ini sangat merugikan secara ekonomi. Udang yang terserang akan mengalami kerusakan usus parah, memicu penurunan berat badan kronis, ukuran udang menjadi kerdil dan tidak seragam, serta pembengkakan nilai FCR (Feed Conversion Ratio) karena pakan tidak dapat diserap dengan baik.

Apa yang menyebabkan kemunculan WFD?

WFD merupakan penyakit yang disebabkan dari beberapa faktor biologi dan lingkungan buruk, diantaranya:

  1. Asosiasi EHP dan Bakteri Vibrio:
    Penyebab paling umum adalah kombinasi antara parasit mikrosporidia Enterocytozoon hepatopenaei (EHP) dan ledakan bakteri Vibrio spp. (seperti V. parahaemolyticus dan V. alginolyticus). EHP merusak sel-sel hepatopankreas, kemudian bakteri Vibrio menginfeksi jaringan yang rusak tersebut.
  2. Alga Beracun & Gregarin:
    Konsumsi alga biru-hijau (Cyanobacteria) yang menghasilkan toksin atau infeksi parasit usus (Gregarin) juga dapat memicu peradangan usus serupa.
  3. Peluruhan/Kerusakan Jaringan Usus:
    Jaringan pada usus udang yang rusak akan mengelupas dan menggumpal membentuk struktur yang disebut Aggregated Transformed Microvilli (ATM). Massa putih inilah yang keluar dari tubuh udang sebagai feses putih. ATM dapat disimpulkan adalah campuran dari mikroorganisme yang menyerang tambak dengan kerusakan dari organ usus itu sendiri yang keluar sebagai feses berwarna putih.

Bagaimana gejala dari penyakit WFD ?

Gejalan klinis dari penyakit WFD meliputi sebagai berikut:

  1. Hepatopankreas menjadi kuning atau pucat
  2. Muncul feses putih di tambak (untaian kotoran menyerupai benang putih yang mengapung di permukaan air)
  3. Karapas menjadi lembek dan rapuh
  4. Pertumbuhan udang lambat atau tidak seragam
  5. Nafsu makan menurun
  6. Pergerakan menjadi lemah, tidak seimbang, dan lambat merespon rangsangan
  7. Mortalitas tinggi

White Feces Disease (WFD) diawali oleh serangan patogen pada organ pencernaan yang menyebabkan hepatopankreas menjadi kuning dan lama-kelamaan menyusut hingga hepatopankreas menjadi putih atau pucat. Kerusakan parah pada organ ini memicu peluruhan/kerusakan dinding usus secara masif, yang kemudian pecahan dinding usus udang keluar dari tubuh udang bersama dengan feses udang dan membuat feses berubah menjadi putih yang mengapung di permukaan air. Bersamaan dengan rusaknya sistem pencernaan, imunitas udang yang drop membuat organ pernapasannya ikut terinfeksi, ditandai dengan kondisi insang berubah pucat, kuning, gelap, atau menghitam. Karena usus sudah tidak mampu lagi menyerap nutrisi pakan, metabolisme tubuh udang terhenti total yang mengakibatkan karapas menjadi lembek dan rapuh, serta berdampak pada pertumbuhan udang lambat atau tidak seragam (mengalami kekerdilan massal). Kondisi tubuh yang kian lemas dan keropos ini membuat nafsu makan menurun drastis, hingga merusak sistem motorik udang yang menyebabkan pergerakan menjadi lemah, tidak seimbang, dan lambat merespon rangsangan. Pada fase akhir dari krisis pencernaan dan kelaparan kronis ini, udang yang sekarat di dasar kolam akan bertumbangan dan memicu terjadinya mortalitas tinggi.

Bagaimana cara mendiagnosa WFD?

Untuk memastikan bahwa kotoran putih tersebut adalah WFD dan mengetahui agen pemicunya, langkah diagnosa berikut perlu dilakukan:

Tingkatan DiagnosaTindakanHasil / Indikasi Positif WFD
Diagnosa Lapangan (Visual)Memantau permukaan air tambak secara berkala dan memeriksa udang contoh dari anco.Ditemukan feses putih mengapung dan usus udang tampak putih atau kosong bergaris-garis.
Pemeriksaan MikroskopisMengambil sampel feses putih atau kerokan usus/hepatopankreas untuk diamati di bawah mikroskop.Terlihat adanya massa ATM (gumpalan mikrovili yang meluruh), spora parasit EHP berbentuk oval kecil, atau koloni Gregarin.
Uji Laboratorium (PCR & Kultur)Melakukan uji molekuler PCR pada sampel udang serta kultur bakteri pada media TCBS.Hasil PCR Positif EHP dan hasil kultur menunjukkan angka Total Vibrio Count (TVC) yang sangat tinggi di hepatopankreas (> 10⁵ CFU/g).

Sumber:

Supono, S., Wardiyanto, W., Harpeni, H., Annisa, H., Khotimah, K., & Ningtyas, A. (2019). Identification of Vibrio sp. as cause of white feces diseases in white shrimp (Penaeus vannamei) and handling with herbal ingredients in East Lampung Regency, Indonesia. AACL Bioflux. Vol. 12(2), 417-425. http://www.bioflux.com.ro/docs/2019.417-425.pdf

Subash, P., Chrisolite, B., Sivansankar, P., Rosalind, G. M., Vijay, K. S., Padmavathy, P., Rani, V., Sankar, R., Gowtham, S., Mageshkumar, P. (2023). White feces syndrome in Penaeus vannamei is potentially an Enterocytozoon hepatopenaei (EHP) associated pathobiome origin of Vibrio spp. Journal of Invertebrate Pathology. Vol. 198, 107932. https://doi.org/10.1016/j.jip.2023.107932

Aranguren Caro, L. F., Mai, H. N., Cruz-Florez, R., Marcos, F. L. A., Alenton, R. R. R., & Dhar, A. K. (2022). Study: White Feces Syndrome in shrimp can be caused by more than one pathogen. Responsible Seafood Advocate. https://www.globalseafood.org/advocate/study-white-feces-syndrome-in-shrimp-can-be-caused-by-more-than-one-pathogen/

Priya, P. S., Vaishnavi, S., Sreekutty, A. R., Sudhakaran, G., Arshad, A., & Arockiaraj, J. (2024). White feces syndrome in shrimp: Comprehensive understanding of immune system responses. Journal Fish & Shellfish Immunology. Vol. 151, 109704. https://doi.org/10.1016/j.fsi.2024.109704,

Related Articles