
Illustrasi Bintik Putih (Sumber: Mongabay)
Bercak putih pada tubuh udang selalu identik dengan kepanikan di kalangan petambak. Begitu tanda ini muncul, bayangan kegagalan panen total langsung terlintas di pikiran. Namun, satu hal yang wajib dipahami: tidak semua bercak putih disebabkan oleh virus mematikan. Ada dua penyakit utama yang memicu gejala ini, yaitu WSSV (White Spot Syndrome Virus) dan BWSS (Bacterial White Spot Syndrome). Kesalahan dalam mengidentifikasi keduanya sering kali berujung pada salah penanganan, seperti buru-buru melakukan panen parsial atau mematikan kolam, padahal kerugian tersebut sebenarnya bisa dicegah jika petambak tahu persis apa yang sedang menyerang udangnya..
Lalu, apa definisi dari WSSV dan BWSS?
Untuk membedakannya, kita harus memahami fondasi dasar dari kedua penyakit ini secara berdampingan:
- WSSV (White Spot Syndrome Virus)
Penyakit ini disebabkan oleh serangan virus (White Spot Syndrome Virus dari keluarga Nimaviridae). Asal infeksinya bersifat sistemik, menyerang jaringan organ dalam, darah, dan jaringan di bawah kulit. Kondisi yang memicu ledakan WSSV biasanya adalah stres lingkungan yang ekstrem, terutama penurunan suhu air yang drastis (di bawah 26°C) dan perubahan salinitas secara mendadak. WSSV merupakan penyakit bintik putih yang mematikan. - BWSS (Bacterial White Spot Syndrome)
Penyakit ini murni disebabkan oleh infeksi bakteri oportunistik, utamanya galur bakteri seperti Bacillus pumilus atau beberapa jenis Vibrio spp. Asal infeksinya bersifat lokal pada permukaan luar, menyerang lapisan kulit luar udang. Kondisi yang memicunya adalah buruknya manajemen dasar kolam, tingginya akumulasi bahan organik (lumpur sisa pakan), serta pH/alkalinitas yang terlalu tinggi yang disukai bakteri. BWSS umumnya tidak mematikan.
Bagaimana perbandingan perbedaan keduanya?
Berikut adalah tabel perbandingan paralel yang membahas aspek-aspek krusial antara WSSV dan BWSS:
| Aspek Perbandingan | WSSV (White Spot Syndrome Virus) | BWSS (Bacterial White Spot Syndrome) |
|---|---|---|
| Karakteristik Gejala Fisik | Bercak putih berbentuk bulat sempurna seperti lingkaran target/peluru. Tidak bisa dikikis atau dikelupas karena bercak berada di dalam lapisan cangkang. | Bercak putih bentuknya tidak beraturan. Bisa dikikis atau dikerok dari permukaan karapas. Sering kali terdapat titik hitam (luka erosi) di bagian tengah bercak. |
| Perilaku & Nafsu Makan Udang | Udang langsung lemas, berenang tanpa arah di permukaan air, dan nafsu makan drop total (0%) secara mendadak dalam hitungan jam. | Udang awalnya tetap aktif bergerak dan nafsu makan cenderung stabil di fase awal infeksi. Udang baru melemah secara bertahap jika infeksi sudah kronis. |
| Tingkat Bahaya & Kecepatan Kematian | Sangat Tinggi (Akut). Mampu menyebabkan kematian massal hingga 100% dalam waktu 3 sampai 10 hari sejak gejala pertama muncul. | Sedang (Kronis). Kematian terjadi dalam jumlah kecil atau tidak ada. Bahaya utamanya adalah penurunan estetika udang yang dapat menurunkan nilai jual dan risiko infeksi sekunder karena BWSS tetap menurunkan sistem imun udang. |
| Tindakan Penanganan / Mitigasi | Tidak ada obatnya. Jika infeksi meluas, dapat dilakukan eradikasi total (klorinasi) agar tidak menular ke kolam lain. Jika udang sudah masuk ukuran konsumsi, segera lakukan panen darurat. Disarankan untuk melakukan uji PCR lebih lanjut | Lakukan siphoning agresif untuk membuang bahan organik, aplikasikan probiotik dosis tinggi, dan berikan mineral untuk memicu udang ganti kulit (moulting). |
Kesimpulan
Bagi petambak, ketelitian apabila terdapat kemunculan bintik putih pada udang menjadi fokus utama, karena dapat berpengaruh pada hasil panen. Jika bintiknya bulat sempurna, tidak bisa dikikis, dan udang mendadak mogok makan, itu adalah tanda WSSV (Virus) yang mengharuskan Anda segera melakukan tindakan agresif seperti pengobatan, uji laboratorium, dan mempertimbangkan segera di panen. Namun, jika bintik tersebut berbentuk tidak beraturan, bisa dikikis, memiliki titik hitam di tengahnya, dan nafsu makan udang masih normal, itu bisa berupa BWSS (Bakteri), sehingga tidak perlu buru-buru dipanen darurat karena penyakit ini bisa disembuhkan dengan membersihkan dasar kolam (siphoning), menggempur probiotik, dan memberi mineral agar udang ganti kulit.
Sumber:
Genics. (2025). Bacterial White Spot Syndrome (BWSS). Genics. https://www.genics.com.au/wp-content/uploads/2024/03/BWSS_Education_Flyer_Bahasa.pdf
Wang, Y. G., Lee, K. L., Najiah, M., Shariff, M., Hassan, M. D. (2000). A new bacterial white spot syndrome (BWSS) in cultured tiger shrimp Penaeus monodon and its comparison with white spot syndrome (WSS) caused by virus. Journal Disease of Aquatic Organisms. Vol. 41, 9-18. https://doi.org/10.3354/dao. https://www.int-res.com/articles/dao/41/d041p009.pdf
Jala Tech. (2019). White Spot Syndrome (WSS/WSD). Jala Tech. https://app.jala.tech/diseases/white-spot-syndrome


