Secara umum, munculnya bercak putih pada udang sering dikaitkan dengan infeksi White Spot Disease yang disebabkan oleh White Spot Syndrome Virus (WSSV). Namun demikian, terdapat penyebab lain yang juga dapat menimbulkan gejala serupa. Salah satunya adalah kondisi yang dikenal sebagai Bacterial White Spot Disease Syndrome (BWSS). Udang yang mengalami BWSS menunjukkan bercak putih pada tubuh yang menyerupai gejala infeksi WSSV, tetapi tetap aktif, berada dalam kondisi sehat, serta mampu tumbuh secara normal tanpa disertai tingkat kematian yang signifikan.
Sebuah penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2000 menunjukkan bahwa udang yang mengalami bercak putih akibat BWSS masih mampu menjalani proses pergantian kulit (moulting) tanpa peningkatan kematian yang berarti dibandingkan dengan udang normal. Infeksi yang terjadi bersifat lokal dan tampaknya tidak berkembang menjadi infeksi sistemik. Hal ini dibuktikan dengan tidak ditemukannya perubahan patologis pada jaringan yang lebih dalam, seperti jaringan otot di bawah kutikula. Bercak putih tersebut diduga merupakan akibat dari degenerasi dan perubahan warna pada kutikula, yang terjadi setelah erosi serta hilangnya lapisan epikutikula akibat infeksi bakteri yang berat.
Agen penyebab BWSS diketahui adalah bakteri Bacillus subtilis, yang sebenarnya sering digunakan sebagai komponen dalam berbagai formulasi probiotik untuk budidaya perikanan. Dalam beberapa penelitian ilmiah dilaporkan bahwa munculnya banyak bercak putih pada kutikula udang dapat terjadi setelah penerapan probiotik yang mengandung bakteri tersebut di kolam budidaya. Kondisi ini menunjukkan bahwa bercak putih pada udang tidak selalu berkaitan dengan infeksi virus berbahaya, sehingga perlu dilakukan diagnosis yang tepat sebelum mengambil tindakan pengendalian penyakit.



