Early Mortality Syndrome (EMS), Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND), and Penaeus monodon Mortality Syndrome (PmMS)

Early Mortality Syndrome (EMS), Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND), dan Penaeus monodon Mortality Syndrome (PmMS) merupakan penyakit pada udang yang disebabkan oleh bakteri dari genus Vibrio yang menghasilkan toksin. Toksin utama yang terlibat adalah PirA dan PirB, yang menyebabkan kerusakan serius pada sistem pencernaan udang. Toksin ini dapat mengakibatkan pengelupasan lapisan sel pada lambung dan saluran pencernaan serta merusak tubulus hepatopankreas (HP). Ketika toksin tersebut diekspresikan oleh bakteri Vibrio parahaemolyticus, kejadian penyakit harus dilaporkan kepada World Organisation for Animal Health (WOAH/OIE) karena memenuhi definisi kasus EMS atau AHPND. Sementara itu, PmMS diketahui berkaitan dengan toksin yang diproduksi oleh Vibrio harveyi.

Penyakit ini dilaporkan menyerang udang budidaya seperti Litopenaeus vannamei dan Penaeus monodon. Penyakit ini bersifat sangat menular dan dapat menyebabkan tingkat kematian yang sangat tinggi dalam sistem budidaya udang semi-intensif maupun intensif. Gejala kematian dapat mulai terlihat sekitar 10 hari setelah penebaran benur, dan dalam kasus yang parah tingkat kematian dapat mencapai hingga 100% pada hari ke-30 hingga ke-35 setelah penebaran.

Perkembangan penyakit sering kali dipengaruhi oleh kondisi lingkungan tambak, seperti salinitas, suhu, serta tingginya konsentrasi bahan organik tersuspensi atau yang terakumulasi di dasar tambak. Kondisi tersebut mendukung pertumbuhan bakteri patogen penghasil toksin yang cenderung mengkolonisasi partikel bahan organik di lingkungan tambak. Ketika partikel tersebut sepenuhnya terkolonisasi oleh bakteri patogen, produksi toksin dapat meningkat secara signifikan. Partikel organik yang mengandung konsentrasi toksin tinggi kemudian dapat tertelan oleh udang, sehingga memicu wabah penyakit akut yang berkembang dengan cepat.

Selain itu, bakteri patogen juga diduga dapat mengkolonisasi lambung udang dan membentuk biofilm. Pembentukan biofilm ini kemudian diikuti oleh produksi toksin yang lebih lanjut, yang memperparah kerusakan pada jaringan hepatopankreas. Secara global, dampak penyakit ini terhadap budidaya udang dilaporkan lebih tinggi di negara-negara Asia dengan tingkat kematian lebih dari 80%, dibandingkan dengan Amerika Latin yang berkisar antara 20–40%, serta Australia yang relatif lebih rendah. Kemunculan dan tingkat keparahan wabah penyakit ini lebih banyak dikaitkan dengan kondisi lingkungan yang mendukung produksi toksin, dan hingga saat ini tidak ditemukan bukti kuat bahwa perubahan genetik lokal pada patogen menjadi faktor utama penyebab perbedaan tingkat keparahan tersebut.

Sumber: https://www.genics.com.au/education/#flyers

Related Articles