Gill Associated Virus (GAV) juga dikenal sebagai varian 2 dari Yellow Head Disease, yaitu Yellow Head Virus genotipe 2 (YHV2). Virus ini menunjukkan kemiripan secara histopatologis dan sitopatologis dengan YHV genotipe 1, namun memiliki tingkat virulensi yang lebih rendah. GAV juga diketahui berkaitan dengan Mid Crop Mortality Syndrome (MCMS) atau sindrom kematian pertengahan panen.
GAV telah terdeteksi pada udang windu (Penaeus monodon) yang berasal dari Australia, Vietnam, dan Thailand. Virus ini juga dilaporkan menginfeksi udang kuruma (Penaeus japonicus) di Australia dan sering ditemukan sebagai koinfeksi bersama Mourilyan virus (MoV). GAV dikaitkan dengan kejadian MCMS yang ditandai oleh kematian progresif yang mulai terjadi pada tahap juvenil pertengahan hingga akhir. Perkembangan penyakit berkaitan dengan dosis infeksi dan melibatkan penyebaran virus secara sistemik pada jaringan ikat di seluruh bagian cephalothorax.
Dalam uji coba laboratorium, udang yang terinfeksi GAV dengan dosis tinggi dapat dengan cepat berkembang menjadi penyakit yang parah, dengan muatan virus yang tinggi dan perubahan patologi yang menyebabkan kematian. Sebaliknya, udang yang terinfeksi dengan dosis rendah umumnya tidak menunjukkan perkembangan penyakit yang signifikan, dan virus dapat bertahan sebagai infeksi tingkat rendah setidaknya selama 60 hari. Terdapat bukti bahwa kondisi stres dapat memicu peningkatan cepat jumlah muatan virus dalam tubuh udang.
Pada infeksi kronis, biasanya tidak terlihat tanda-tanda klinis yang jelas. Infeksi hanya dapat dideteksi melalui keberadaan badan spheroid pada organ limfa. Infeksi kronis GAV dilaporkan memiliki prevalensi tinggi pada populasi Penaeus monodon liar maupun budidaya di wilayah Australia bagian timur. Kondisi ini dapat berkembang menjadi penyakit di tambak, terutama ketika kondisi lingkungan budidaya kurang optimal. Dalam beberapa kasus, infeksi GAV dilaporkan berkaitan dengan tingkat kematian yang dapat mencapai hingga sekitar 80% di Australia.



