Udang Hidup Tapi Tidak Besar? Waspada Penyakit EHP!Penyakit Udang yang Diam-Diam Menggerogoti Keuntungan Petambak

Pada banyak tambak, masalah tidak selalu datang dalam bentuk kematian massal. Sebagai contoh, kolam dapat terlihat normal, air relatif stabil, udang tetap makan, dan tidak ada tanda darurat. Namun, seiring waktu petambak mulai menyadari satu hal yang mengkhawatirkan, yaitu udang tumbuh dengan sangat lambat, ukuran tidak seragam, dan target panen terus meleset. Situasi ini sering membuat petani ragu. Apakah pakan kurang bagus? Apakah kualitas air tidak optimal? Atau memang siklusnya sedang kurang beruntung?

Padahal, berdasarkan artikel ilmiah terbaru tahun 2025 yang dipublikasikan di Journal of Invertebrate Pathology, kondisi seperti ini sangat sering berkaitan dengan penyakit EHP atau biasa dikenal sebagai feses putih, yaitu penyakit yang tidak membunuh udang secara langsung, tetapi menggerogoti pertumbuhan udang.

Apa Itu Penyakit EHP?

EHP merupakan singkatan dari Enterocytozoon hepatopenaei, yaitu penyakit yang disebabkan oleh jamur parasit mikrosporidia yang menyerang organ hepatopankreas udang. Organ tersebut sangat penting karena berfungsi sebagai alat pencernaan dan penyerapan nutrisi pada udang atau seperti ”mesin pengolah pakan”. Sehingga, jika organ tersebut terganggu, maka nutrisi pada pakan tidak dapat terserap secara optimal oleh udang, meskipun nafsu makan udang terlihat baik. Akibatnya, energi udang lebih banyak digunakan untuk bertahan hidup, bukan untuk bertumbuh. Umumnya, infeksi EHP pada udang sering kali terlihat pada tahap awal budidaya atau pada fase pasca larva. Berdasarkan penelitian ilmiah tahun 2025 di Journal of Invertebrate Pathology, infeksi EHP terbukti mengganggu metabolisme energi, sistem pencernaan, dan regulasi pertumbuhan udang, meskipun tingkat kematiannya relatif rendah. Petambak perlu waspada karena infeksi EHP dapat terjadi pada beberapa jenis udang budidaya, seperti udang vannamei dan windu. 

Infeksi EHP dapat terjadi dalam berbagai kondisi kolam dan umumnya ditemukan pada salinitas antara 2 ppt hingga 30 ppt. Meskipun demikian, keparahan infeksi EHP cenderung meningkat pada salinitas yang lebih tinggi (30 ppt), dan dapat menurun pada lingkungan dengan salinitas menengah (15 ppt) atau rendah (2 ppt). Singkatnya, EHP dapat bertahan pada berbagai kondisi salinitas, dari rendah hingga tinggi. Namun, infeksi EHP cenderung lebih parah pada salinitas yang tinggi. Selain itu, penyebaran infeksi EHP dapat disebabkan oleh beberapa organisme lain seperti Artemia, cacing laut, dan kerang juga bisa membawa penyakit ini. Artinya, EHP sangat mudah menyebar dalam sistem budidaya, terutama jika biosekuriti kurang ketat.

Mengapa EHP Sering Tidak Disadari?

Infeksi EHP pada udang sering kali tidak disadari oleh petambak karena infeksi EHP tidak menimbulkan gejala yang dramatis, berbeda dengan penyakit seperti bintik putih yang dapat menyebabkan kematian massal. Infeksi EHP tidak membuat udang mati mendadak, sehingga kolam akan terlihat ”aman”. Hal tersebut membuat petambak lambat menyadari infeksi EHP, dan kondisi tersebut perlu dihindari karena ukuran udang yang tidak sesuai dengan target akan membuat nilai jual udang menurun drastis. Oleh karena itu, petambak perlu meningkatkan kewaspadaan agar infeksi EHP tidak semakin memburuk pada udang.

Penting bagi petambak untuk mengetahui ciri-ciri udang yang terinfeksi EHP. Ciri-ciri yang pertama adalah udang tumbuh tidak seragam, di mana selisih ukuran udang dalam satu tambak bisa sangat besar. Artinya, pada satu kolam akan terdapat udang yang besar, sedang, dan sangat kecil di fase kehidupan udang yang sama. Ciri-ciri yang kedua, yaitu kadang muncul feses putih. Namun, perlu dipahami bahwa tidak semua udang yang terinfeksi EHP akan menghasilkan feses putih, dan sebaliknya tidak semua feses putih disebabkan oleh infeksi EHP. Karena tidak ada kematian besar-besaran, banyak penambak baru sadar adanya infeksi EHP saat panen dilakukan.

Lalu, Apa Dampak EHP Bagi Petambak?

Setelah mengetahui apa itu EHP dan ciri-ciri udang yang terinfeksi EHP, selanjutnya petambak perlu menyadari dampak negatif yang disebabkan oleh penyakit ini. Dampak yang paling terasa bagi petambak adalah kerugian ekonomi yang disebabkan oleh perbedaan ukuran udang yang mengakibatkan turunnya nilai jual udang. Ditambah, dengan adanya infeksi EHP pada udang, maka biaya produksi akan meningkat karena adanya waktu pemeliharaan yang jauh lebih lama.

Kemudian, meskipun infeksi EHP pada udang tidak menyebabkan kematian massal secara langsung, EHP dapat meningkatkan timbulnya penyakit berbahaya lainnya pada udang, seperti AHPND (Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease), WSSV (White Spot Syndrome Virus), dan Vibrio. Sebagaimana dilansir oleh jurnal Aqualculture terbaru tahun 2025, penyebab udang yang terinfeksi EHP dapat berpotensi terkena penyakit berbahaya lainnya karena udang mengalami gangguan sistem imun dan metabolisme dalam jangka panjang, sehingga udang akan lebih mudah mengalami penurunan kesehatan saat menghadapi stres lingkungan atau infeksi sekunder.

Singkatnya, EHP dapat menjadi penyebab udang terinfeksi penyakit berbahaya lainnya yang membuat penambak tetap bekerja keras, tetapi hasilnya tidak sebanding atau merugikan. Oleh karena itu, penting bagi petambak mengetahui langkah-langkah pencegahan agar infeksi EHP dapat dihindari.

Pencegahan Seperti Apa yang Petambak Perlu Lakukan?

Petambak perlu menyadari satu kabar baik, yaitu infeksi EHP sejatinya dapat dicegah dengan melakukan beberapa langkah-langkah pencegahan yang strategis. Hal ini penting karena pencegahan dapat mengurangi resiko kerugian bagi petambak. Oleh karena itu, berikut ini beberapa langkah-langkah strategis yang dapat dilakukan oleh petambak untuk mencegah infeksi EHP pada udang.

  1. Deteksi Dini : Kunci Menyelamatkan Hasil Tambak

Salah satu pelajaran terpenting dari penyakit EHP adalah penyakit ini harus diketahui sejak awal, bukan ditunggu hingga waktunya panen. Karena infeksi EHP tidak menyebabkan kematian secara mendadak, satu-satunya cara untuk mengidentifikasinya adalah melalui pemeriksaan laboratorium untuk dilakukan pengujian dengan menggunakan metode Shrimp Multipath PCR. Pengujian dapat dilakukan pada fase benur ataupun dilakukan pada induk udang. Pengujian ini dapat berfungsi sebagai sistem peringatan dini bagi petambak sehingga keputusan yang tepat dapat diambil sebelum kerugian semakin membesar.

  • Gunakan benur yang telah diuji Shrimp Multipath PCR dan dinyatakan negatif EHP

Hal ini sangat berguna karena infeksi EHP pada udang dapat terjadi pada fase benur. Oleh karena itu, penggunaan benur yang telah lolos dari pengujian laboratorium dapat menjadi strategi yang baik untuk dilakukan oleh petambak udang.

  • Melakukan persiapan tambak dengan baik

Sebelum menjalankan proses budidaya, petambak perlu memastikan bahwa tambak yang akan menjadi tempat udang hidup berada dalam kondisi bersih dan steril. Petambak dapat melakukan pengapuran tanah kolam jika sebelumnya telah terkontaminasi infeksi EHP.

  • Monitoring kesehatan udang secara rutin dengan pendekatan berbasis data, bukan hanya visual

Petambak perlu mulai mengubah kebiasaan berbudidaya yang didasarkan pada pengalaman dan intuisi menjadi budidaya yang berbasiskan oleh data. Petambak perlu melakukan pengujian kesehatan udang pada setiap fase melalui pengujian laboratorium. Data yang dihasilkan dari pengujian tersebut dapat membantu petambak dalam mempersiapkan langkah-langkah strategis yang lebih akurat. Pendekatan ini terbukti lebih efektif dibandingkan dengan menunggu hingga akhir siklus untuk mengidentifikasi permasalahan.

  • Melaporkan penyakit ke petambak lainnya

Petambak cenderung merasa takut jika melaporkan adanya penyakit yang terjadi pada tambaknya, karena akan dianggap sebagai sumber dari permasalahan. Padahal, ketakutan tersebut lah yang dapat membuat permasalahan menjadi semakin besar dan rumit. Penyebaran penyakit pada udang umumnya sangat cepat dan bisa melalui banyak faktor, termasuk diantaranya air yang saling terhubung antara satu tambak dengan tambak lainnya. Oleh karena itu, sistem pelaporan penyakit antar tambak memiliki peran yang sangat penting dalam menghentikan penyebaran penyakit, di mana tambak yang belum terinfeksi dapat melakukan pencegahan sejak dini jika diberikan informasi mengenai adanya penyakit pada tambak disekitarnya. Artinya, kerugian ekonomi yang dapat terjadi akibat penyakit dapat dicegah oleh petambak lainnya. Saling dukung dan saling membantu merupakan kunci dari kesuksesan tambak.

Tapi, Bagaimana Jika Infeksi EHP Terlanjur Menginfeksi Udang? Apa yang Bisa Dilakukan Oleh Petambak?

Jika petambak telah mengetahui adanya infeksi EHP yang terjadi pada udang-udangnya, baik itu melalui pengamatan visual atau Shrimp Multipath PCR, maka petambak dapat melakukan beberapa langkah pengobatan untuk mencegah kerugian semakin membesar. Langkah yang pertama, yaitu mengurangi kepadatan kolam. Petambak dapat melakukan panen parsial, agar tingkat kepadatan semakin berkurang di tambak. Hal tersebut dapat membantu untuk mengurangi tingkat stres pada udang, serta mengurangi penularan infeksi EHP pada udang. Langkah kedua, yaitu meningkatkan frekuensi pergantian air. Tujuan dari pergantian air, yaitu untuk menurunkan konsentrasi patogen (sumber penyakit) dan memperbaiki kondisi lingkungan kolam. Langkah ketiga, yaitu melakukan penyiponan kotoran dan sisa sampah organik secara rutin pada kolam. Hal tersebut dikarenakan infeksi EHP dapat mudah menyebar melalui feses dan sisa organik dari udang. Penyiponan rutin dapat membantu untuk menurunkan penularan infeksi EHP pada udang. Langkah keempat, yaitu segera mengeluarkan dan membuang udang yang sakit atau mati dari kolam. Langkah ini penting karena dapat mencegah kanibalisme pada udang yang membuat penularan EHP tercipta. Langkah kelima, yaitu memperkuat biosekuriti pada tambak. Langkah ini mencakup peningkatan higienitas pada peralatan tambak, seperti dibersihkan setelah pemakaian dan tidak dipakai silang antar kolam untuk mencegah penyebaran. Artinya petambak perlu mengusahakan setiap kolam mempunyai alat penunjangnya masing-masing untuk mencegah penularan penyakit dari kolam satu ke kolam lainnya. Langkah-langkah tersebut direkomendasikan sebagai strategi penyelamatan secara cepat saat infeksi EHP pada udang sudah terdeteksi.

Penutup

Infeksi EHP bukanlah penyakit yang paling ditakuti oleh petambak karena tidak menyebabkan kematian massal. Oleh karena itu, infeksi EHP seringkali dianggap sepele oleh para petambak. Nah, disitulah letak berbahayanya, karena infeksi EHP pada udang dapat menjadi pemicu berbagai penyakit berbahaya lainnya. Akibatnya, terciptalah pertumbuhan udang yang lambat, serta kematian massal karena infeksi penyakit lainnya. Artikel ini menegaskan pentingnya budidaya berlandaskan data. Artinya, petambak perlu melakukan pengecekan laboratorium secara rutin untuk mengetahui keadaan udang secara akurat. Selain itu, kerjasama antar petambak juga perlu terjalin dengan baik sehingga penyebaran penyakit antar tambak dapat dicegah guna meningkatkan kesejahteraan para petambak.

Sumber:

Genics (2026) ‘Enterocytozoon hepatopenaei (EHP) atau “mikrosporidiosis hepatopankreatik ”’, pp. 1–3. Available at: www.genics.com.

Qiao, Y. et al. (2025) ‘Characterization of Enterocytozoon hepatopenaei infection stages in shrimp using machine learning and gene network analysis’, Journal of Invertebrate Pathology, 211(April), p. 108326. Available at: https://doi.org/10.1016/j.jip.2025.108326.

Xu, S. et al. (2025) ‘Consistent responses of the shrimp Litopenaeus vannamei gut microbiota to Enterocytozoon hepatopenaei infection across spatially distant farms’, Aquaculture, 594(October 2023), p. 741447. Available at: https://doi.org/10.1016/j.aquaculture.2024.741447.


Related Articles