Udang Anda Kerdil?Kenali Virus Senyap, Perusak Hasil Panen!!

Banyak petambak mengira bahwa selama udang masih hidup dan bisa dipanen, maka tambak dalam kondisi baik-baik saja. Padahal, tidak semua penyakit udang langsung menyebabkan kematian. Salah satu contoh paling nyata adalah Infectious Hypodermal and Haematopoietic Necrosis Virus (IHHNV), virus yang sering kali tidak terlihat jelas, tetapi dampaknya sangat merugikan secara ekonomi. Oleh karena itu, yuk, mengenal lebih jauh tentang IHHNV.

Apa sih IHHNV?

Infectious Hypodermal and Haematopoietic Necrosis Virus (IHHNV) (biasa disebut dengan “udang kerdil” jika di tambak) adalah virus yang menyerang udang budidaya, khususnya udang dari kelompok Penaeid seperti udang Vannamei, udang Windu, dan udang Biru. Virus ini sangat kecil dan menyerang jaringan penting dalam tubuh udang, terutama yang berkaitan dengan pertumbuhan dan pembentukan tubuh. Salah satu masalah terbesar dari virus ini, yaitu penularannya bisa terjadi dari induk udang. Induk betina yang membawa virus ini, berpotensi menghasilkan telur dan larva yang sudah terinfeksi. Akibatnya, meskipun benur terlihat sehat, virus sebenarnya sudah ada di dalam tubuhnya. Virus ini juga bisa menyebar di tambak melalui kontak antar udang pada lingkungan budidaya yang tidak terkontrol.

Mengapa IHHNV Berbahaya bagi Petambak?

Kabar baiknya adalah IHHNV tidak berbahaya bagi manusia, sehingga udang yang terinfeksi tetap aman untuk dikonsumsi. Akan tetapi, virus ini dapat menjadi penyebab menurunnya produktivitas tambak, ukuran panen yang tidak seragam, dan harga jual yang menjadi rendah. Hal tersebut yang membuat IHHNV tetap perlu menjadi perhatian bagi para Petambak.

Berbeda dengan penyakit udang yang menyebabkan kematian dengan sangat cepat, IHHNV menyerang secara perlahan. Hal tersebut membuat udang dapat tetap hidup meskipun sudah terjangkit oleh virus IHHNV. Pada beberapa spesies udang, terdapat perbedaan dampak yang sering muncul. Oleh karena itu, penting bagi Petambak untuk mengetahui dampak tersebut.

Dampak yang diakibatkan IHHNV, yaitu adanya tingkat kematian yang tinggi pada fase juvenil. Fase juvenil (udang remaja) merupakan fase kehidupan udang, dimana bentuk udang telah terlihat dengan jelas, akan tetapi ukurannya masih kecil dan sedang.

Dampak yang diakibatkan IHHNV selanjutnya, yaitu adanya pertumbuhan yang lambat, ukuran udang tidak seragam, bentuk tubuh abnormal, dan hasil panen yang kecil. Hal tersebut dapat menimbulkan adanya kerugian secara perlahan bagi para petambak, karena ketika panen dilakukan ternyata udang dewasa memiliki ukuran yang tidak merata, ada yang berukuran besar dan ada yang berukuran kecil, sehingga membuat harga jual udang menurun dengan drastis. Selain itu, pada jangka panjang kondisi ini bisa membuat usaha tambak tidak efisien dan sulit untuk berkembang karena biaya produksi meningkat tanpa hasil yang sebanding (rugi berkepanjangan).

Lalu, Apa sih Ciri-Ciri Udang yang Terinfeksi IHHNV?

Pada banyak kasus, udang yang terinfeksi tidak langsung menunjukkan gejala. Oleh karena itu, disarankan untuk menjalankan Shrimp MultiPath TM PCR untuk mengidentifikasi induk yang terinfeksi IHHNV dengan akurat. Namun, jika diamati dengan teliti, ada beberapa tanda pada fisik udang yang terinfeksi IHHNV, dimana dapat menjadi sinyal bagi para petambak, antara lain sebagai berikut:

  1. Rostum (Tanduk Kepala) bengkok ke kiri atau kanan
  2. Segmen tubuh terlihat tidak rata atau menonjol
  3. Kulit udang kasar dan tidak mulus
  4. Antena tampak berkerut
  5. Pertumbuhan tidak seragam dalam satu kolam

Apa yang Perlu Dilakukan Petambak?

Setelah mengetahui dampak negatif yang dapat dihasilkan dari virus IHHNV terhadap keadaan ekonomi petambak. Selanjutnya penting bagi para petambak untuk mengetahui beberapa langkah praktis yang dapat membantu mencegah risiko infeksi virus IHHV pada udang, seperti berikut ini:

a.      Deteksi Dini adalah Kunci

Menyadari virus ini sejak dini, dapat membantu petambak untuk mencegah penyebaran virus terhadap udang. Deteksi dini dengan melakukan tes Shrimp MultiPath TM PCR, dapat menjadi kunci utama untuk menghindari kerugian di masa depan bagi petambak. Tes PCR tersebut dapat menjadi langkah paling akurat untuk mendeteksi virus IHHNV pada induk udang, benur, atau udang di fase juvenile. Petambak dapat memutus penyebaran virus dengan melakukan tes PCR pada induk udang, sehingga petambak dapat melakukan pemisahan induk yang sehat dan yang terjangkit virus IHHNV. Deteksi dini ini memberi kesempatan petambak untuk mengambil keputusan sebelum kerugian membesar.

b.      Gunakan Benur dari Sumber Terpercaya

Dikarenakan induk udang dapat menyebarkan virus IHHNV ke calon benur, maka petambak perlu memastikan bahwa sumber benur harus dari produsen yang selalu menjalankan program bebas patogen dan melakukan pengujian laboratorium yang rutin. Hal tersebut dikarenakan benur yang sehat, bukan hanya terlihat aktif, tetapi juga teruji secara laboratorium.

c.       Perhatikan Keseragaman Ukuran Udang

Petambak juga perlu memperhatikan ukuran udang secara berkala pada satu kolam. Jika dalam satu kolam ukuran udang sangat bervariasi (banyak yang kerdil), hal ini bisa menjadi indikasi awal infeksi kronis seperti IHHNV, maka petambak perlu dengan segera melakukan evaluasi dan pengujian laboratorium untuk cek Shrimp MultiPath TM PCR.

d.      Jaga Stabilitas Lingkungan Tambak

Hal yang perlu diketahui oleh petambak juga, yaitu udang yang terinfeksi virus akan lebih sering merasa stres. Oleh karena itu, petambak perlu menghindari perubahan kualitas air yang mendadak. Hal tersebut dapat dilakukan dengan menjaga suhu, salinitas, dan kualitas air agar tetap stabil. Kemudian, petambak perlu memperhatikan pengelolaan pemberian pakan dengan baik dan konsisten agar tidak memperburuk kondisi udang.

e.       Terapkan Manajemen Kesehatan Jangka Panjang

Pengendalian virus IHHNV pada udang tidak cukup dengan satu tindakan saja. Petambak perlu melakukan program eksklusi patogen, dan pengawasan rutin terhadap udang untuk mengetahui penyakit yang diderita oleh udang. Petambak dapat bekerjasama dengan tenaga kesehatan udang untuk mendapatkan hasil maksimal dari hasil laboratorium. Petambak perlu mengubah budaya budidaya udang yang awalnya tradisional, menjadi budidaya yang berbasiskan data.

Virus IHHNV adalah contoh nyata bahwa udang bisa terlihat sehat tetapi sebenarnya sakit. Meskipun virus ini jarang menyebabkan kematian massal pada udang, namun dampaknya sangat nyata pada kualitas produktivitas dan keuntungan petambak. Dengan pemahaman yang baik, deteksi dini, dan manajemen kesehatan yang tepat, risiko virus IHHNV pada udang bisa ditekan sehingga usaha budidaya dapat tetap menghasilkan keuntungan jangka  panjang.

 

Sumber:

Genics (2026) ‘Infectious Hypodermal and Haematopoietic Necrosis Virus (IHHNV)’. Available at: www.genics.com.

Withyachumnarnkul, B. et al. (2006) ‘Low impact of infectious hypodermal and hematopoietic necrosis virus (IHHNV) on growth and reproductive performance of Penaeus monodon’, 69(Lm), pp. 129–136.


Related Articles