Laem-Singh Necrosis Virus (LSNV)

Laem-Singh Necrosis Virus (LSNV) merupakan agen infeksi yang pertama kali diidentifikasi pada tahun 2006 di Provinsi Laem-Singh, Thailand, yang kemudian menjadi asal penamaannya. Virus ini diketahui sebagai salah satu komponen yang berkaitan dengan sindrom Monodon Slow Growth Syndrome (MSGS), suatu kondisi yang menyebabkan pertumbuhan udang terhambat serta variasi ukuran yang sangat besar dalam satu populasi. Pada sindrom ini, LSNV diduga berhubungan dengan terjadinya retinopati pada udang yang mengalami pertumbuhan lambat. Namun, virus ini tidak secara langsung menyebabkan kematian. Penelitian menunjukkan bahwa keberadaan LSNV mungkin diperlukan untuk terjadinya MSGS, tetapi bukan satu-satunya penyebab, sehingga diduga terdapat agen lain yang juga terlibat namun belum diketahui. Oleh karena itu, pembudidaya udang disarankan untuk menghindari penggunaan postlarva yang terinfeksi LSNV agar dapat mencegah munculnya MSGS di tambak budidaya.

LSNV terutama terdeteksi pada udang windu (Penaeus monodon), tetapi beberapa spesies lain juga diketahui dapat menjadi inang, seperti Fenneropenaeus merguiensis, Metapenaeus dobsoni, dan Litopenaeus vannamei. Berdasarkan beberapa studi transmisi, Litopenaeus vannamei diduga dapat bertindak sebagai pembawa tanpa gejala (asymptomatic carrier).

Secara morfologi, LSNV merupakan virus RNA untai tunggal dengan sense positif (positive-sense ssRNA) yang berdiameter sekitar 25 nm. Virus ini dilaporkan berkaitan dengan kejadian MSGS pada populasi Penaeus monodon, baik pada udang yang tampak sehat maupun yang menunjukkan gejala infeksi. Kasus MSGS yang berasosiasi dengan LSNV pertama kali dilaporkan di Thailand dan kemudian ditemukan juga di Malaysia, Indonesia, India, serta Vietnam, yang menunjukkan bahwa virus ini memiliki distribusi geografis yang terutama terbatas di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara.

MSGS yang berkaitan dengan infeksi LSNV dapat memberikan dampak yang sangat besar terhadap produksi udang windu karena menyebabkan penurunan produktivitas yang signifikan. Penelitian menunjukkan bahwa udang yang terdampak hanya mampu mencapai ukuran rata-rata sekitar 5–10 gram setelah empat bulan budidaya, jauh lebih kecil dibandingkan ukuran normal yang biasanya mencapai 24–40 gram. Selain itu, populasi udang juga menunjukkan koefisien variasi (CV) berat yang sangat tinggi, yaitu sekitar 30–80%, yang menandakan ukuran udang dalam satu tambak sangat tidak seragam. Dampak paling serius dari kondisi ini adalah ketidakpastian hasil produksi dan nilai panen akhir. Di Thailand, kondisi tersebut bahkan diduga menjadi salah satu faktor yang mendorong peralihan budidaya dari Penaeus monodon ke Litopenaeus vannamei.

Sumber: https://www.genics.com.au/education/#flyers

Related Articles