Membangun kolam ikan tidak bisa dilakukan asal-asalan karena kolam yang dirancang dengan baik akan memudahkan perawatan ikan, menjaga kualitas air, dan meningkatkan hasil panen. Oleh karena itu, sebelum mulai budidaya, petambak perlu memahami dasar-dasar desain dan tata letak kolam yang baik dan benar. Penasaran? Yuk, baca sampai habis.
Apa saja jenis-jenis kolam yang petambak perlu ketahui?
Dalam praktik budidaya, petambak perlu mengetahui setidaknya 5 jenis kolam ikan yang memiliki fungsi yang berbeda-beda. Hal tersebut dikarenakan dengan adanya kelima kolam tersebut pada budidaya, petambak dapat lebih mengoptimalkan kegiatan budidaya, sehingga hasil panen yang didapatkan petambak dapat lebih optimal. Kelima jenis kolam tersebut, yaitu antara lain sebagai berikut:
| Kolam Benih, Kolam ini biasanya berukuran kecil, dimana untuk luasnya sekitar 0.02 sampai 0.05 hektar, dan kedalamanya sekitar 1 meter | |
| Kolam Penebaran Ikan. Kolam ini memiliki ukuran yang lebih besar, seringkali luasnya sekitar 0.2 sampai 2.0 hektar, dengan kedalaman kolam sekitar 2.0 sampai 3.5 meter. Kolam ini dapat bersifat permanen atau musiman. | |
| Kolam Pembesaran. Kolam ini memiliki ukuran yang lebih luas dan dalam daripada kolam benih, Untuk luas kolamnya sekitar 0.008 sampai 0.2 hektar, dan kedalamannya sekitar 1.5 sampai 2.0 meter. Kolam ini dapat bersifat musiman, artinya hanya digunakan untuk membesarkan benih ikan | |
| Kolam Pemasaran. Kolam ini ukuran luas yang jauh lebih kecil dibandingkan kolam sebelumnya, akan tetapi memiliki kedalaman yang cukup dalam. Luas kolam mini umumnya sekitar 0.05 sampai 0.10 hektar, dan kedalaman airnya sekitar 3 sampai 4 meter. Kolam ini digunakan sebagai tempat penyimpanan ikan yang ditangkap dari kolam pembibitan untuk dijual dalam waktu singkat ketika permintaan dan harga sedang tinggi | |
| Kolam Induk. Kolam induk digunakan untuk memelihara ikan betina dewasa sebagai sumber telur yang dapat digunakan untuk pembenihan yang baru. Kolam ini umumnya memiliki luas sekitar 0.2 sampai 0.4 hektar, dengan kedalaman sekitar 2 meter. Perlu diingat bahwa kola mini bersifat permanen, artinya petambak perlu menyediakan kolam ini secara khusus untuk induk ikan | |
| Kolam Karantina. Kolam ini berguna sebagai kolam pembesaran untuk ikan yang berasal dari luar (luar tambak), sehingga ikan yang baru dapat beradaptasi dan tidak menularkan penyakit secara langsung ke ikan yang ada di kolam. Ukuran luas kolam ini umumnya berkisar 0.02 hektar, dan kedalamannya sekitar 1.5 meter. Selain itu, kola mini juga dapat digunakan untuk proses pengobatan ikan yang terinfeksi suatu penyakit tertentu dari kolam lain |
Bagaimana konstruksi kolam ikan yang benar?
Kolam ikan yang ideal biasanya dibuat khusus dengan bentuk teratur dan dasar kolam yang relatif rata, namun sedikit miring. Kemiringan ini berguna agar air mudah dialirkan keluar saat kolam dikeringkan atau saat panen. Lokasi kolam juga harus diperhatikan, sebaiknya berada di lahan yang tidak rawan banjir, memiliki kemiringan tanah landai, serta jauh dari sumber pencemaran seperti limbah dan pestisida. Tanah dengan kandungan liat cukup tinggi lebih baik karena mampu menahan air dengan baik.
Kemudian, dari sisi konstruksi, kolam perlu dilengkapi dengan pematang atau tanggul yang harus dibuat kuat dan stabil (dapat dari tanah atau beton). Tanggul sebaiknya dibuat miring agar tidak mudah longsor dan cukup lebar di bagian atas supaya aman untuk dilewati oleh petambak. Tanah tanggul dipadatkan secara bertahap agar tidak bocor. Selain itu, kolam perlu memiliki saluran pemasukan dan pengeluaran air sehingga tinggi air bisa diatur sesuai dengan kebutuhan budidaya. Sistem pengeluaran air yang baik akan memudahkan pengelolaan kolam dan mempercepat proses panen. Petambak dapat melihat contoh desain konstruksi kolam yang benar pada gambar berikut ini:

Sebelum kolam digunakan, lahan harus dibersihkan dari akar, batu, dan sisa tanaman. Lapisan tanah bagian atas sebaiknya disimpan lalu dikembalikan ke dasar kolam setelah penggalian selesai agar kolam tetap subur. Kolam juga perlu dijaga keamanannya, karena ikan merupakan aset berharga bagi pembudidaya. Dengan perencanaan dan pembangunan kolam yang tepat, budidaya ikan dapat berjalan lebih efisien, aman, dan memberikan keuntungan yang lebih maksimal.
Sumber:
Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (2016) Rancangan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor/PERMEN-KP/2016 Tentang Pedoman Umum Pembesaran Udang.
Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (2022) Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2022 Tentang Pedoman Umum Pengembangan Budidaya Udang Vaname (Litopenaeus Vannamei) Berbasis Kawasan.
Malik, I. (2014) ‘Better Management Practices: Budidaya Udang Vannamei (Tambak Semi-Intensif dengan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL))’, pp. 1–22.
Orissa Watershed Development Mission (2020) Better Practice Guidelines. Pond Construction: Design and Layout of Ponds.
Yusuf, C. (2014) ‘Better Management Practices Budidaya Udang Windu (Penaeus Monodon) Untuk Tambak Tradisional dan Semi-Intensif’, WWF Indonesia, pp. 1–26.
