Udang vannamei telah menjadi salah satu komoditas andalan di Indonesia. Selain bisa diproduksi sepanjang tahun, udang ini juga memiliki pertumbuhan yang relatif cepat. Namun, keberhasilan budidaya tidak hanya ditentukan oleh benur dan pakan, melainkan juga oleh cara pengelolaan tambak yang benar dan ramah lingkungan. Akan tetapi, sebelum masuk lebih jauh ke proses budidaya udang vannamei, akan lebih baik jika kita berkenalan lebih dalam tentang udang populer yang satu ini. Oleh karena itu, yuk mengenal lebih jauh tentang udang Vannamei.
Apa sih Sebenarnya Udang Vannamei?
Litopenaeus vannamei atau biasa dikenal dengan sebutan Udang vannamei merupakan salah satu jenis udang yang berasal dari daerah subtropis pantai barat benua Amerika. Udang ini termasuk kedalam genus Penaeus dan sub genus Litopenaeus. Pertumbuhan udang vannamei dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu frekuensi molting (proses ganti kulit), dan pertumbuhan pada setiap molting. Udang vannamei dapat memakan segalanya (omnivore), dimana pada habitatnya, udang ini memakan jasad renik (krustasea kecil), amphipoda, dan polychaeta. Nafsu makan udang ini tergantung pada kondisi lingkungan, dimana konsumsi pakan akan meningkat pada kondisi lingkungan yang optimal.
Udang ini resmi diizinkan masuk ke Indonesia melalui Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia No. 41/2001, dimana hal tersebut dikarenakan pada saat itu produksi udang Windu menurun sejak 1996 akibat serangan penyakit dan penurunan kualitas lingkungan. Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia melakukan kajian terhadap komoditas udang laut jenis lain yang dapat menambah produksi udang di Indonesia.
Kenapa udang vannamei dapat bertahan hidup di Indonesia? Hal tersebut dikarenakan iklim Indonesia dengan sebagian besar negara pada negara di benua Amerika memiliki sedikit kemiripan. Indonesia merupakan negara yang dikenal sebagai negara tropis, dimana Indonesia memiliki musim hujan dan kemarau yang tetap, sehingga Indonesia mampu membuat udang vannamei bertahan hidup. Hal tersebut yang membuat udang vannamei digunakan oleh pemerintah sebagai “penambal” dari menurunnya produksi udang windu yang terjadi pada 1996. Sama seperti udang pada umumnya, udang vannamei juga rentan terserang berbagai penyakit yang mematikan. Oleh karena itu, petambak perlu mengetahui cara pencegahan dan pengendalian penyakit dengan menerapkan proses budidaya yang ramah lingkungan.
Lantas, Bagaimana Cara Budidaya Udang Vannamei yang Baik dan Benar?
Berdasarkan panduan Better Management Practices (BMP) dari WWF-Indonesia, petambak perlu memperhatikan beberapa hal terkait cara budidaya udang vannamei yang baik dan benar. Berikut ini merupakan beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh petambak:
- Pemilihan lokasi tambak atau budidaya yang tepat. Lokasi tambak sebaiknya dekat dengan sumber air yang tidak tercemar dan bersih (dapat dekat dengan air sungai atau laut), tidak rawan banjir, dan tidak menggunakan air tanah agar tidak merusak lingkungan. Jika, lokasi tambak berada di pesisir pantai, akan lebih baik jika petambak melakukan penanaman mangrove untuk meminimalisir pencemaran pada air dan memperkuat tanggul tambak.
Petambak juga perlu memperhatikan tekstur tanah, dimana tanah tambak harus mampu menahan air dengan baik (patahan pada tanah minimal 20%, serta tanah harus bebas dari zat berbahaya seperti zat besi yang berlebih karena zat tersebut mampu menurunkan kualitas air yang digunakan. Selain itu, hal yang krusial lainnya, yaitu lokasi tambak harus mudah diakses oleh transportasi yang dapat menunjang kegiatan budidaya.
- Pemilihan desain, tata letak, dan IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah). Tambak sebaiknya memiliki tanggul dengan tinggi sekitar 2,5 meter. Hal tersebut bertujuan agar kolam tambak mempu menampung air dengan kedalaman sekitar 1 meter, serta memungkinkan untuk penanaman mangrove di sekitaran tanggul. Luas kolam umumnya berkisar sekitar 0.3 sampai 0.5 hektar dengan bentuk persegi panjang atau bujur sangkar. Ukuran yang tidak terlalu besar tersebut bertujuan untuk memudahkan proses pengawasan dan pemeliharaan udang. Desain kolam juga perlu memiliki sistem pemasukan dan pengeluaran air secara terpisah. Petambak dapat melihat contoh tata letak kolam yang baik dan benar pada gambar berikut ini:

Kolam perlu didesain dengan kemiringan yang diarahkan ke pintu pengeluaran untuk memudahkan proses penyiponan sisa-sisa pakan dan kotoran. Dasar tambak juga perlu didesain model konikal (bagian tengah lebih rendah dari bagian pinggir) untuk mempermudah pembuangan limbah tambak melalui pipa
- Persiapan lahan tambak. Dalam proses persiapan lahan, petambak perlu melakuakn perbaikan konstruksi tambak. Petambak perlu memastikan bahwa tanggul kolam kokoh dan tidak terdapat kebocoran. Petambak juga perlu memperhatikan ketinggian air pasang, sehingga petambak dapat menambah ketinggian tanggal tanggal ketika air laut sedang pasang.
Selanjutnya, dasar tambak perlu dikeringkan untuk mematikan hama dan penyakit di dasar tambak. Jika terdapat endapan lumpur hitam, maka petambak perlu membersihkannya untuk menghilangkan sisa bau lumpur yang dapat digunakan cairan molase. Selanjutnya, petambak perlu memperbaiki pH-nya agar mendekati netral. Jika tanah terlalu asam (pH < 7), maka dapat dilakukan pengapuran. Teknik penting karena dapat memperbaiki kondisi tanah serta menumbuhkan plankton alami yang bermanfaat sebagai pakan awal udang. Persiapan ini penting untuk mencegah penyakit dan menekan kematian udang sejak awal pemeliharaan.
- Pemasukan air. Dalam budidaya udang vannamei, kualitas air menjadi faktor kunci. Air yang masuk ke tambak harus disaring dan diendapkan terlebih dahulu sebelum digunakan. Selama pemeliharaan, parameter air seperti oksigen terlarut, pH, salinitas, dan kecerahan harus dipantau secara rutin. Jika kualitas air menurun, pembudidaya perlu segera melakukan tindakan perbaikan, seperti penambahan air, pengapuran, atau peningkatan aerasi.
- Penebaran benur udang vannamei. Sejak proses pemindahan benur, petambak perlu memastikan alat yang digunakan (seperti plastik, styrofoam, kardus, bahkan kendaraan yang digunakan) dalam kondisi bersih (bebas dari bahan kimia berbahaya). Umumnya ukuran benur yang ditampung, yaitu PL 10 sampai 12, dan kepadatan benur yang digunakan berkisar 2.000 sampai 3.000 induk per liter untuk transportasi jarak dekat (pengangkutan di bawah 12 jam), sedangkan untuk transportasi jarak jauh disarankan ukuran benur jauh lebih kecil, yaitu PL 9 dengan kepadatan yang sama. Selama proses pengangkutan, benur udang perlu berada pada suhu yang rendah (dingin) untuk mengurangi metabolisme. Sedangkan, salinitas media angkut minimal 25 ppt untuk perjalanan lebih dari 12 ja, dan minimal 20 ppt untuk pengangkutan jarak dekat.
Selanjutnya, petambak perlu memperhatikan cara penebaran benur. Hal yang perlu diperhatikan bahwa umumnya padat penebaran budidaya udang vannamei, yaitu 60 sampai 100 induk per m2. Penebaran benur dilakukan setelah air dalam tambak telah siap (ditandai dengan warna hijau cerah atau coklat muda). Penebaran diawali dengan proses penyesuaian suhu, yaitu dengan mengampungkan kantong plastik yang berisikan benur ke perairan tambak. Pelepasan benur ke tambak dengan menenggelamkan kantong plastik ke air tambak secara perlahan, sampai benur keluar sendirinya ke air tambak. Perlu diingat bahwa penebaran benur tidak boleh dilakukan pada area tambak yang tidak terdapat arus (titik mati).
- Pengendalian Penyakit. Bagian ini perlu menjadi perhatian penting untuk para petambak karena penyakit dapat menyebabkan kerugian secara ekonomi kepada petambak secara langsung. Petambak dianjurkan menerapkan biosekuriti (kebersihan tambak yang baik), membatasi keluar dan masuk untuk orang asing dan hwan ke area tambak, serta tidak membuang udang sakit ke perairan umum sekitaran tambak (karena dikhawatirkan air yang terinfeksi akan masuk ke area tambak). Selanjutnya, petambak sebaiknya tidak menggunakan bahan-bahan kimia (seperti pestisida) di area lingkungan tambak karena dapat merusak lingkungan dan membahayakan udang. Sebagai alternatif, bahan alami seperti saponin dapat digunakan pada tahap persiapan tambak.
Kemudian, petambak juga perlu memperhatikan air di tambak secara berkala untuk memastikan ketinggian dan kualitas air di tambak. Penambahan air dilakukan untuk mempertahankan ketinggian air dalam tambak yang dibutuhkan oleh udang. Sedangkan, pergantian air dilakukan untuk mempertahankan kualitas air. Kualitas air dapat diikuti melalui penerapan cara tradisional (visual) atau penggunaan alat bantu (seperti pH meter, thermometer, salinometer, dan DO meter). Sebaiknya, petambak menyiapkan alat-alat bantu pengukuran tersebut untuk mendapatkan hasil pengukuran yang lebih akurat dan petambak dapat mencatat hasil pengukuran secara berkala tersebut sebagai data bagi petambak untuk mengambil keputusan strategis. Akan tetapi bagi petambak yang menggunakan cara tradisional, maka dapat dilakukan dengan melihat kecerahan warna air dan tinggi air.
Ketika hujan, ketinggian air bertambah dan kualitas air akan berubah. Oleh karena itu, petambak perlu menyalakan kincir untuk mengaduk air, sehingga air dapat terhindar dari pengendapan suhu. Setelah hujan, pH juga mengalami penurunan, sehingga petambak perlu melakukan penebaran dolomit dengan dosis 5 ppm.
- Pemeliharaan udang vannamei. Perlu diperhatikan, bahwa pemberian pakan harus dilakukan secara teratur dan sesuai kebutuhan udang. Hal tersebut dikarenakan pakan yang berlebihan justru dapat mencemari air dan memicu penyakit untuk udang. Oleh karena itu, petambak disarankan menggunakan alat bantu seperti anco untuk memantau nafsu makan udang. Apabila usus udang penuh dengan makanan, berarti dosis yang diberikan telah cukup. Pengamatan melalui anco dapat dilakukan setelah udang berumur 20 hari. Kegiatan diawali dengan pemberian sedikit pakan di anco untuk membiasakan udang pakan di anco. Apabila udang telah terbiasa makan pakan di anco, selanjutnya pakan yang ditempatkan di anco sebanyak 0,5% dari jumlah alokasi pakan yang diberikan.
Pengontrolan dilakukan 2 sampai 2,5 jam setelah penempatan pakan di anco. Jika pakan di anco habis, maka dosis pakan dapat ditambah secara bertahap sampai dengan 5% dari total pemberian sebelumnya. Jika udang berumur lebih dari 30 hari pemeriksan pakan di anco dilakukan sekitar 30 menit setelah penempatan pakan di anco. Jika pakan di anco tidak habis, maka petambak perlu memberikan dosis yang lebih sedikit (kurangi sekitar 10-20% dari jumlah pakan sebelumnya).
- Panen udang vannamei. Panen dilakukan saat udang mencapai ukuran yang ditetapkan pasar, dimana untuk menjaga kestabilan harga udang, maka petambak perlu melakukan penanganan yang cepat dan bersih agar kualitas udang tetap terjaga. Panen dapat dilakukan secara parsial atau panen total. Panen parsial dilakukan pada pagi hari untuk menghindari udang molting. Sedangkan, panen total biasanya dilakukan ketika udang telah mencapai ukuran 40 ind./kg, dimana proses ini menggunakan jaring kantong yang dipasang pada pintu air, kemudian dilanjutkan dengan jaring tarik. Pengeringan air untuk panen total perlu dilakukan dengan cepat untuk menghindari udang molting. Waktu pemanenan maksimal 3 jam karena jika lebih dari itu, biasanya undang akan stress.
Setelah mengenal udang vannamei dan penerapan budidaya udang vannamei yang baik dan benar. Harapannya, pembudidaya tidak hanya bisa meningkatkan hasil panen, tetapi juga menjaga lingkungan sekitar tambak (praktik budidaya keberlanjutan). Praktik budidaya yang berkelanjutan menjadi kunci agar usaha tambak tetap dapat berjalan dalam jangka panjang dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, khususnya masyarakat pesisir.
Sumber:
Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (2016) Rancangan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor/PERMEN-KP/2016 Tentang Pedoman Umum Pembesaran Udang.
Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (2022) Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2022 Tentang Pedoman Umum Pengembangan Budidaya Udang Vaname (Litopenaeus Vannamei) Berbasis Kawasan.
Malik, I. (2014) ‘Better Management Practices: Budidaya Udang Vannamei (Tambak Semi-Intensif dengan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL))’, pp. 1–22.
