Udang windu merupakan salah satu komoditas unggulan di Indonesia yang dibudidayakan masyarakat pesisir sejak lama. Akan tetapi, dalam beberapa tahun terakhir, usaha budidaya udang sering menghadapi beberapa masalah serius, terutama serangan penyakit dan kerusakan lingkungan akibat pengelolaan budidaya yang kurang tepat. Hal tersebut menandakan bahwa keberhasilan budidaya tidak hanya ditentukan oleh benur dan pakan, melainkan juga oleh cara pengelolaan tambak yang benar dan ramah lingkungan. Oleh karena itu, pengetahuan terkait udang windu dan panduan praktis untuk budidaya udang windu perlu menjadi perhatian untuk para petambak di Indonesia, agar budidaya udang windu bisa berjalan lebih produktif dan menguntungkan dalam jangka panjang.
Apa sih sebenarnya udang windu?
Penaeus monodon atau petambak Indonesia sering mengenalnya dengan sebutan “udang windu”. Jenis udang ini merupakan udang asli Indonesia yang telah dibudidayakan sejak beberapa dekade lalu sampai saat ini. Meskipun udang windu masih populer dibudidayakan saat ini, tetapi pembudidaya udang windu telah menghadapi permasalahan serius, yaitu penyakit dan perubahan lingkungan sejak tahun 2.000-an. Penyakit menyebabkan turunnya tingkat produksi udang windu, sehingga dapat membuat petambak menghadapi kerugian ekonomi yang berkepanjangan.
Lantas, bagaimana cara budidaya udang windu yang baik dan benar?
Berdasarkan panduan Better Management Practices (BMP) dari WWF-Indonesia, petambak perlu memperhatikan beberapa hal terkait cara budidaya udang windu yang baik dan benar. Berikut ini merupakan beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh petambak:
- Pemilihan lokasi tambak atau budidaya yang tepat. Lokasi tambak sebaiknya terletak di posisi pasang surut air laut, dimana selisih antara pasang dan surut minimal 1 Meter karena dapat memudahkan proses pengairan tambak. Artinya lokasi tambak perlu dekat dengan sumber air yang tidak tercemar dan bersih (dapat dekat dengan air sungai atau laut), tidak rawan banjir (daerah dengan curah hujan rendah), dan tidak menggunakan air tanah agar tidak merusak lingkungan. Jika, lokasi tambak berada di pesisir pantai, akan lebih baik jika petambak melakukan penanaman mangrove untuk meminimalisir pencemaran pada air dan memperkuat tanggul tambak.
Petambak juga perlu memperhatikan tekstur tanah, dimana tanah tambak harus mampu menahan air dengan baik (patahan pada tanah minimal 20%, serta tanah harus bebas dari zat berbahaya seperti zat besi yang berlebih karena zat tersebut mampu menurunkan kualitas air yang digunakan. Kemudian tanah sebaiknya tidak mengandung sulfat masam yang tinggi (kandungan pyrit yang tinggi). Selain itu, hal yang krusial lainnya, yaitu lokasi tambak harus mudah diakses oleh transportasi yang dapat menunjang kegiatan budidaya.
- Pemilihan desain, tata letak, dan IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah). Tambak sebaiknya memiliki tanggul dengan tinggi sekitar 2,5 meter. Hal tersebut bertujuan agar kolam tambak mempu menampung air dengan kedalaman sekitar 1 meter, serta memungkinkan untuk penanaman mangrove di sekitaran tanggul. Luas kolam umumnya berkisar sekitar 0.3 sampai 0.5 hektar dengan bentuk persegi panjang atau bujur sangkar. Bagi petambak tradisional, sebaiknya luas tambak tidak lebih dari 10 Hektar dan gunakan tandon minimal 30% dari lahan budidaya udang. Ukuran yang tidak terlalu besar tersebut bertujuan untuk memudahkan proses pengawasan dan pemeliharaan udang. Desain kolam juga perlu memiliki sistem pemasukan dan pengeluaran air secara terpisah. Petambak dapat melihat contoh tata letak kolam yang baik dan benar pada gambar berikut ini
- Persiapan lahan tambak. Dalam proses persiapan lahan, petambak perlu melakukan perbaikan konstruksi tambak, dan menerapkan desain yang sesuai standar. Desain konstruksi tambak terdiri dari petakan dan saluran tambak, baik untuk pemasukan maupun pengeluaran air. Petambak perlu memastikan bahwa tanggul tambak kokoh dan tidak terdapat kebocoran. Petambak juga perlu memperhatikan ketinggian air pasang, sehingga petambak dapat menambah ketinggian tanggal tanggal ketika air laut sedang pasang. Hal tersebut bertujuan untuk memungkinkan tambak untuk menampung air dengan kedalaman maksimal 1 meter.
Selanjutnya, dasar tambak perlu dikeringkan untuk mematikan hama dan penyakit di dasar tambak. Jika terdapat endapan lumpur hitam, maka petambak perlu membersihkannya untuk menghilangkan sisa bau lumpur yang dapat digunakan cairan molase. Selanjutnya, petambak perlu memperbaiki pH-nya agar mendekati netral. Jika tanah terlalu asam (pH < 7), maka dapat dilakukan pengapuran. Teknik penting karena dapat memperbaiki kondisi tanah serta menumbuhkan plankton alami yang bermanfaat sebagai pakan awal udang. Persiapan ini penting untuk mencegah penyakit dan menekan kematian udang sejak awal pemeliharaan
- Pemasukan air. Dalam budidaya udang vannamei, kualitas air menjadi faktor kunci. Pengisian air dapat dilakukan pada saat pasang air laut melalui pintu air atau menggunakan pompa. Air yang masuk ke tambak harus disaring dan diendapkan terlebih dahulu sebelum digunakan karena untuk menghindari tercemarnya air pada kolam. Umumnya pengisian air dilakukan selama 4 sampai 4 hari (jika di waktu bulan purnama, yaitu hari ke 1 sampai 18, atau jika di waktu bulan mati, yaitu hari ke 28 sampai 3).
Selama proses pengisian air ke tambak, petambak perlu memperhatikan beberapa hal seperti, tandon (luas tandon harus disesuaikan dengan luasan tambak yang akan diisi air, perbandingan yang digunakan, yaitu 1 tandon untuk 2 kolam tambak), oksigen terlarut, pH, salinitas, dan kecerahan harus dipantau secara rutin. Jika kualitas air menurun, pembudidaya perlu segera melakukan tindakan perbaikan, seperti penambahan air, pengapuran, atau peningkatan aerasi.
- Penebaran benur udang vannamei. Sejak proses pemindahan benur, petambak perlu memastikan alat yang digunakan (seperti plastik, styrofoam, kardus, bahkan kendaraan yang digunakan) dalam kondisi bersih (bebas dari bahan kimia berbahaya). Selanjutnya, hal yang paling krusial yang perlu diperhatikan oleh petambak, yaitu pemilihan benur. Benur sebaiknya berasal dari tempat yang telah bersertifikat bebas penyakit (dibuktikan dengan adaya surat keterangan benur telah bebas dari penyakit). Petambak dapat melihat ciri-ciri benur yang sehat, yaitu warna dan ukurannya seragam, bergerak aktif melawan arus, anggota tubuh benur lengkap dan bersih dari ciri-ciri penyakit, dan perut benut penuh berisi makanan. Saat proses pemindahan benur, umumnya ukuran benur yang ditampung, yaitu PL 10 sampai 12, dan kepadatan benur yang digunakan berkisar 2.000 sampai 3.000 induk per liter untuk transportasi jarak dekat (pengangkutan di bawah 12 jam), sedangkan untuk transportasi jarak jauh disarankan ukuran benur jauh lebih kecil, yaitu PL 9 dengan kepadatan yang sama. Selama proses pengangkutan, benur udang perlu berada pada suhu yang rendah (dingin) untuk mengurangi metabolisme. Sedangkan, salinitas media angkut minimal 25 ppt untuk perjalanan lebih dari 12 ja, dan minimal 20 ppt untuk pengangkutan jarak dekat.
Selanjutnya, sebelum ditebar, benur perlu melalui proses penyesuaian suhu dan kadar garam air tambak. Oleh karena itu, penebaran dilakukan pagi atau sore hari saat suhu tidak terlalu panas, sehingga tingkat kelangsungan hidup udang dapat lebih tinggi. Cara penyesuaian suhu tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan kantong yang diisi oksigen 2/3 bagian sampai menggelembung, dan diisi air 1/3 bagian, dimana satu kantong plastik dapat menampung benur sebanyak 1.000 ekor/liter. Pelepasan benur ke tambak dengan menenggelamkan kantong plastik ke air tambak secara perlahan, sampai benur keluar sendirinya ke air tambak. Perlu diingat bahwa penebaran benur tidak boleh dilakukan pada area tambak yang tidak terdapat arus (titik mati). Pastikan penebaran benur tersebut dilakukan setelah air dalam tambak telah siap (ditandai dengan warna hijau cerah atau coklat muda).
Kemudian, Selama masa pemeliharaan, petambak perlu rutin memantau kualitas air, seperti suhu, salinitas, pH, kecerahan, alkalinitas, ketinggian air, dan oksigen terlarut agar udang tidak stres. Berikut ini beberapa kisaran parameter untuk pengelolaan kualitas air sesuai dengan kelayakan hidup udang windu:
Tabel 1 Parameter Pengukuran Kualitas Air
| Parameter Air/Tanah | Alat Ukur | Nilai Normal | Keterangan |
| Suhu (Derajat Celcius) | Termometer | 29 – 32 | Perubahan suhu harian, yaitu 26 – 33 derajat Celcius (diukur pada pagi dan sore hari) |
| Salinitas (ppt) | Salinometer | 4 – 40 | Perubahan salinitas harian, yaitu maksimal 3 ppt/hari |
| Kecerahan (cm) | Cakram Secchi (Secchi Disk) | 30 – 40 | Pengukuran dilakukan pada pagi pada jam 09.00 |
| pH | pH Meter | 7,6 – 8,8 | Perubahan pH harian, yaitu 0,2 – 0,5 (diukur pada pagi dan sore hari) |
| Alkalinitas (ppm) | Alkalinity Meter | 90 – 150 | Pengukuran dilakukan pada hari minggu (seminggu 1x) |
| Ketinggian air (cm) | Mistar Air | 70 – 80 | Sebaiknya ketinggian air adalah 2x nilai kecerahan air |
| Oksigen terlarut (ppm) | Dissolved Oxygen Meter (DO Meter) | >3 | Diukur pada pagi hari atau pada saat plankton terlihat pekat |
Sumber: WWF-Indonesia
Hal pertama yang perlu diperhatikan oleh petambak, yaitu salinitas. Pada musim kemarau dapat dilakukan penambahan air tawar 2% sampai 5% per hari untuk mengurangi peningkatan salinitas. Sedangkan pada musim hujan, petambak perlu membuat saluran pembuangan air hujan agar salinitas tidak berubah secara drastis. Selanjutnya, petambak perlu memperhatikan stabilitas suhu pada kolam tambak. Hal tersebut dilakukan dengan mengatur kedalaman air sekitar 70-80 cm dan memperhatikan kepadatan plankton. Alasan mengapa kedalaman air menjadi landasan karena kedalaman air dapat mencerminkan kecerahan air (warna air), dimana hal tersebut dapat menunjukan kesehatan air. Kepadatan plankton yang menyebabkan kecerahan pada kolam tambak berubah (warna air berubah-ubah dari pagi ke sore), bisa dikarenakan banyaknya plankton yang tidak baik untuk pemeliharaan udang, yaitu zooplankton. Jika kepadatan plankton tinggi (kecerahan kolam kurang dari 30 cm) pada siang hari, maka lakukan penurunan kedalaman air hingga 60 sampai 70 cm atau dengan konsep 2x nilai kecerahan air. Petambak perlu melakukan itu, hingga warna air menjadi membaik, dimana biasanya air akan berwarna hijau muda atau hijau kecoklatan yang menandakan plankton tumbuh seimbang.
Kemudian, petambak juga perlu memperhatikan kadar oksigen pada air yang dapat dilakukan dari malam hingga pagi hari. Jika oksigen menurun (jika oksigen di bawah 3 ppm), maka kincir atau pompa air dapat digunakan untuk meningkatkan kadar oksigen pada air. Selanjutnya, hal yang tidak kalah penting, yaitu memperhatikan tingkat pH pada air kolam tambak. Pengecekan pH perlu dilakukan setiap hari pada pagi dan sore hari. Kegiatan ini menjadi penting karena nilai pH dapat mempengaruhi seluruh proses kimia dalam air yang dapat menentukan kehidupan udang. pH air harus dipertahankan pada kisaran 7,5 sampai 8,5 dengan perubahan peningkatan maksimal 0,5. Bila pH turun (kurang dari 7,5), maka perlu dilakukan pengapuran, dan jika pH naik (lebih dari 8,5), maka dapat dilakukan molase (tetes tebu) dengan dosis 2-3 ppm). Dan yang terakhir, yaitu petambak perlu memperhatikan alkalinitas pada air kolam yang dapat diamati setiap 2 minggu sekali. Nilai alkalinitas yang rendah dapat ditingkatkan melalui penambahan carbonat dengan mengaplikasikan kapur dolomit dengan dosis 3-5 ppm yang dilakukan setiap 3-5 hari sekali hingga mencapai nilai minimal, yaitu 90 ppm.
- Pengendalian Penyakit. Bagian ini perlu menjadi perhatian penting untuk para petambak karena penyakit dapat menyebabkan kerugian secara ekonomi kepada petambak secara langsung. Oleh karena itu, pengecekan kesehatan udang perlu dilakukan setiap hari. Udang yang sehat memiliki ciri-ciri, antara lain terlihat aktif, warnanya yang cerah, insang bersih, dan ususnya yang penuh. Petambak perlu melakukan upaya pencegahan secara aktif untuk menghindari resiko udang terjangkit penyakit. Cara pencegahan yang dapat dilakukan oleh petambak, yaitu melalui penyaringan air, penggunaan tandon, menjaga kebersihan tambak, serta menerapkan biosekuriti yang ketat (seperti tidak mencampur alat antara kolam dan membatasi akses orang luar untuk masuk ke area tambak, serta tidak membuang udang sakit ke perairan umum sekitaran tambak). Selanjutnya, petambak sebaiknya tidak menggunakan bahan-bahan kimia (seperti pestisida) di area lingkungan tambak karena dapat merusak lingkungan dan membahayakan udang. Sebagai alternatif, bahan alami seperti saponin dapat digunakan pada tahap persiapan tambak. Kemudian, petambak juga perlu memperhatikan kualitas dan ketinggian air di tambak secara berkala untuk memastikan ketinggian dan kualitas air di tambak.
- Pemeliharaan udang Windu. Perlu diperhatikan, bahwa pemberian pakan harus dilakukan secara teratur dan sesuai kebutuhan udang. Hal tersebut dikarenakan pakan yang berlebihan justru dapat mencemari air dan memicu penyakit untuk udang. Oleh karena itu, petambak disarankan menggunakan alat bantu seperti anco untuk memantau nafsu makan udang. Apabila usus udang penuh dengan makanan, berarti dosis yang diberikan telah cukup. Pengamatan melalui anco dapat dilakukan setelah udang berumur 20 hari. Kegiatan diawali dengan pemberian sedikit pakan di anco untuk membiasakan udang pakan di anco. Apabila udang telah terbiasa makan pakan di anco, selanjutnya pakan yang ditempatkan di anco sebanyak 0,5% dari jumlah alokasi pakan yang diberikan.
Pengontrolan dilakukan 2 sampai 2,5 jam setelah penempatan pakan di anco. Jika pakan di anco habis, maka dosis pakan dapat ditambah secara bertahap sampai dengan 5% dari total pemberian sebelumnya. Jika udang berumur lebih dari 30 hari pemeriksan pakan di anco dilakukan sekitar 30 menit setelah penempatan pakan di anco. Jika pakan di anco tidak habis, maka petambak perlu memberikan dosis yang lebih sedikit (kurangi sekitar 10-20% dari jumlah pakan sebelumnya).
- Panen udang vannamei. Panen dilakukan saat udang mencapai ukuran yang ditetapkan pasar dan harga sedang baik, maka panen perlu dilakukan (baik panen secara parsial atau total). Proses panen sebaiknya dilakukan pada pagi hari. Kemudian, untuk menjaga kestabilan harga udang, maka petambak perlu melakukan penanganan yang cepat dan bersih agar kualitas udang tetap terjaga, seperti melakukan pencucian udang pasca panen dengan air bersih, dan menyimpan udang di wadah berisikan es. Oleh karena itu, durasi proses panen maksimal 3 jam karena jika lebih dari itu, udang biasanya akan stress.
Setelah mengetahui tata cara melakukan budidaya udang windu. Petambak perlu memahami bahwa budidaya yang dapat bertahan lama (jangka panjang), yaitu budidaya yang berlandaskan pada kegiatan yang berkelanjutan. Artinya, petambak perlu memahami bahwa praktik budidaya harus mampu meminimalisir terjadinya kerusakan pada lingkungan sekitar budidaya. Hal tersebut bertujuan untuk meminimalisir kerugian ekonomi yang terjadi di masa depan karena lingkungan yang rusak akan merusak hasil panen pada udang.
Lantas, bagaimana cara memelihara lingkungan tambak?
Setidaknya terdapat 9 poin penting yang perlu petambak ketahui untuk memelihara lingkungan tambak, sehingga kegiatan budidaya dapat bertahan lama. Berikut ini merupakan hal-hal yang petambak perlu lakukan jika ingin “cuan” atau untung yang bertahan lama:
- Lakukan monitoring kualitas air buangan di depan pintu air masuk dan sungai secara rutin setiap bulan.
- Pastikan sampah terkumpul dan sediakan tampat pembuangan sampah (dilakukan sesuai dengan prosedur yang dikeluarkan oleh Pemerintah)
- Tidak melakukan pembasmian rumput dengan herbisida pada tanggul tambak selama proses pemeliharaan udang
- Hindari melakukan penggalian tanah saat pemeliharaan udang berlangsung karena dapat mengubah kandungan pH pada tambak
- Perhatikan hewan yang masuk ke lingkungan tambak
- Jangan membunuh hewan di lingkungan tambak, tapi utamakan tindakan pencegahan masuknya hwan.
- Lakukan penanaman mangrove pada sekitaran tanggul tambak dengan jenis tanaman yang sesuai sehingga tidak merusak konstruksi tanggul tambak dan tidak memicu hewan pembawa penyakit untuk masuk dan tinggal di area tanggul tambak
- Pembuatan papan informasi untuk menjaga lingkungan tambak terutama untuk kelestarian mangrove serta kebersihan lingkungan tambak
- Menciptakan mekanisme pemberitahuan kepada petambak lainnya jika ada udang yang terkena suatu penyakit
- Tidak membuang air tambak hingga masa panen di sekitaran tambak jika ada udang yang terkena penyakit.
Setelah melakukan semuanya dengan baik dan benar, maka selanjutnya petambak perlu memastikan bahwa semuanya telah tercatat dengan baik. Pencatatan sangat penting karena petambak dapat mengetahui langkah atau strategi apa yang perlu dilakukan untuk memaksimalkan keuntungan. Pencatatan perlu dimulai dari proses penebaran benur, monitoring kondisi udang, monitoring kualitas air, dan panen.
Saya tidak tahu apa saja yang perlu dicatat dan cara mencatatnya. Apakah ada contoh panduan pencatatannya?
Petambak tidak perlu bingung lagi, sebab berikut ini merupakan contoh pencatatan yang dapat diikuti oleh para petambak. Setidaknya ada 4 jenis pencatatan yang perlu dilakukan oleh petambak, antara lain sebagai berikut:
- Catatan Penebaran Benur
| Nomor | Tanggal Tebar | Jenis Udang | Jumlah Penebaran (Ekor atau Kg) | Jumlah Udang Per Kantong | Asal Benur |
- Catatan Monitoring Kondisi Udang
| Tanggal (Jam) | Umur Udang | Ukuran Udang | Pemberian Pakan | Keaktifan Udang | Tinggi Air | Pergantian Air (cm) | |||
| Jumlah Pakan | Nomor Produksi Pakan | Skor Anco | Masuk | Buang | |||||
- Catatan Monitoring Kualitas Air
| Tanggal Pengecekan | Kualitas Air | Perlakuan | ||||
| Warna | pH | Salinitas | Suhu | Jenis | Jumlah | |
- Catatan Panen
| Nomor | Tanggal Panen | Jenis Udang | Jumlah Udang (Ekor atau Kg) | Ukuran Udang | Harga Per Kg | Total Penjualan | Tempat Menjual Udang |
Melalui penerapan panduan best management practice ini, budidaya udang windu diharapkan tidak hanya menghasilkan panen yang lebih optimal dan stabil, tetapi juga menjaga lingkungan pesisir tetap sehat untuk menjaga kesejahteraan petambak jangka panjang. Dengan cara pengelolaan yang baik dan benar, usaha tambak dapat terus berjalan dan memberi manfaat jangka panjang bagi petambak, maupun alam sekitarnya.
Sumber:
Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (2016) Rancangan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor/PERMEN-KP/2016 Tentang Pedoman Umum Pembesaran Udang.
Yusuf, C. (2014) ‘Better Management Practices Budidaya Udang Windu (Panaeus Monodon) Untuk Tambak Tradisional dan Semi-Intensif’, WWF Indonesia, pp. 1–26.
