Banyak petambak mengira bahwa selama udang masih hidup dan mau makan, maka kondisi tambak baik-baik saja. Padahal, ada beberapa penyakit udang yang datangnya cepat dan dampaknya sangat besar, salah satunya adalah Decapod Iridescent Virus 1 (DIV1).
Pertama kali ditemukan di China pada tahun 2014, dapat dikatakan bahwa DIV1 tergolong virus yang relatif baru. Meski demikian, virus ini dilaporkan menjadi penyebab kematian udang dalam jumlah besar di berbagai negara. Oleh karena itu, penting bagi petambak untuk mulai mengenal dan mewaspadainya sejak dini. Yuk, mengenal lebih dalam Decapod Iridescent Virus 1 (DIV1).
Apa sih DIV1 itu?

DIV1 (Decapod Iridescent Virus 1) adalah virus yang menyerang udang budidaya, terutama udang vannamei dan udang windu. Virus ini bisa menyerang udang sejak fase benurhingga ketika udang telah tumbuh besar menjelang panen. Petambak perlu memahami bahwa virus ini dapat menyerang dengan cepat dan menyebabkan udang mati secara mendadak, terutama ketika suhu air rendah, kualitas air tidak stabil, dan udang mengalami stress. Parahnya, pada beberapa tambak, DIV1 dilaporkan dapat menyebabkan kematian hingga puluhan persen dalam waktu singkat. Jenis udang yang paling banyak terinfeksi oleh virus ini adalah udang vannamei, dimana 80% kematian telah dilaporkan di tambak udang vannamei. Akan tetapi, jenis udang yang lainnya juga memungkinkan untuk terinfeksi virus ini, termasuk diantaranya udang monodon, dan chinensis.
Lalu, Apa Ciri-Ciri Udang yang Terinfeksi DIV1?
Tidak semua udang yang terinfeksi DIV1 akan langsung terlihat sakit. Namun, ada beberapa tanda yang bisa menjadi peringatan bagi petambak, antara lain:
- Udang terlihat lemas dan malas bergerak
- Nafsu makan menurun
- Perut dan usus tampak kosong
- Warna daging perut terlihat agak keputihan
- Organ pencernaan (hepatopankreas) tampak pucat atau mengecil
Jika tanda-tanda tersebut muncul, petambak sebaiknya tidak menganggap remeh, karena bisa mengarah pada infeksi virus DIV1. Sebaiknya, petambak melakukan uji shrimp MultiPathXtra PCR di laboratorium untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat.
Mengapa DIV1 Berbahaya bagi Petambak?
Berbeda dengan penyakit yang hanya menghambat pertumbuhan, DIV1 bisa langsung menyerang organ penting udang, seperti insang, organ pencernaan, dan jaringan pembentuk darah. Akibatnya, udang cepat melemah dan mati secara bertahap atau sekaligus. Di beberapa tambak, kematian akibat DIV1 bisa mencapai lebih dari setengah populasi udangmenyebabkan udang lemas dan berhenti makan. Akhirnya, kematian tidak dapat dihindari oleh petambak, baik dimulai oleh kematian bertahap hingga kematian massal pada udang. Kematian tersebut dapat membuat petambak gagal panen dalam satu siklus, dimana hal tersebut tentunya dapat membuat kerugian secara ekonomi bagi para petambak karena nilai jual udang akan menurun drastis. Hal tersebut membuat para petambak tidak dapat mengembalikan modal yang telah dikeluarkan, seperti biaya pakan, dan waktu budidaya. Selain itu, infeksi virus ini dapat berpotensi menular ke kolam yang lainnya. Oleh karena itu, virus DIV1 perlu diperhatikan karena virus ini dapat menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan usaha budidaya udang, baik yang tradisional atau modern.
Apa yang Perlu Dilakukan Petambak?
Mengetahui dampak negatif yang dapat ditimbulkan oleh virus DIV1, maka petambak perlu memahami langkah-langkah praktis untuk mengurangi resiko kerugian. Hal tersebut dikarenakan biaya pencegahan akan jauh lebih murah jika dibandingkan dengan menanggung kerugian besar akibat kematian udang yang terinfeksi oleh DIV1. Di bawah ini merupakan langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan oleh petambak:
a. Deteksi Dini adalah Kunci
Virus DIV1 tidak bisa dipastikan hanya dari pengamatan mata saja. Oleh karena itu, pemeriksaan laboratorium (shrimp MultiPath Xtra PCR) menjadi cara paling akurat untuk mengetahui keberadaan virus sejak awal. Deteksi dini memberi kesempatan petambak untuk mengambil keputusan sebelum kerugian semakin besar. Selain itu, petambak perlu memastikan benur yang digunakan telah lulus uji laboratorium dan bersertifikat. Hal tersebut bertujuan untuk meminimalisir penyebaran virus pada udang.
b. Jaga Kebersihan dan Stabilitas Lingkungan Tambak
Petambak juga perlu memperhatikan kebersihan dan stabilitas lingkungan tambak. Hal tersebut dikarenakan udang yang terinfeksi virus akan sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan. Sehingga Petambak perlu menghindari pergantian air secara mendadak untuk mempertahankan stabilitas kualitas pada air (seperti PH dan Salinitas air). Oleh karena itu, petambak perlu mengelola pemberian pakan udang dengan lebih berhati-hati. Lingkungan yang stabil dapat membantu menekan dampak penyakit.
c. Ambil Keputusan Tepat Waktu
Jika terdapat udang yang terinfeksi virus DIV1 di suatu kolam, maka petambak perlu menerapkan strategi pengendalian yang tepat waktu. Strategi ini diterapkan untuk mengurangi kerugian lebih besar. Petambak dapat mempertimbangkan beberapa strategi berikut ini:
- Peningkatan aerasi
- Pengurangan pasokan pakan
- Panen lebih awal pada kolam yang terinfeksi
- Mengutamakan perlindungan kolam yang masih sehat dengan membangun penghalang fisik
- Menginformasikan tambak tetangga tentang adanya infeksi virus ini
Virus DIV1 menjadi pengingat kepada kita bahwa udang bisa terlihat normal, tetapi sebenarnya sedang sakit. Penyakit ini dapat datang secara cepat dan berdampak besar bagi hasil panen. Dengan pemahaman yang baik terkait virus DIV1, kewaspadaan sejak dini, dan pengelolaan tambak yang lebih berhati-hati, maka risiko kerugian akibat virus DIV1 akan dapat ditekan. Diharapkan budidaya udang ke depannya tidak hanya mengandalkan pengalaman para petambak semata, tetapi juga kesadaran terhadap kesehatan udang dan pencegahan penyakit sejak awal yang didasarkan pada data yang berasal dari pengujian laboratorium.
Sumber:
Genics (2026) ‘Decapod Iridescent Virus 1 (DIV1)’, pp. 1–3. Available at: www.genics.com.
