Petambak di Indonesia telah sering menghadapi wabah yang mengakibatkan terjadinya penurunan produktivitas tambak. Salah satu wabah penyakit yang paling sering terjadi, yaitu wabah yang disebabkan oleh White Spot Syndrome Virus (WSSV) atau yang sering dikenal dengan sebutan penyakit “bercak putih” atau “white spot” oleh petambak di Indonesia. Virus ini telah menjadi penyebab utama terhadap turunnya produksi pada udang secara signifikan karena tingginya angka kematian yang dapat terjadi. Oleh karena itu, penting bagi petambak untuk mengenal lebih dalam terkait virus ini. Yuk, mengenal White Spot Syndrome Virus (WSSV).
Apa sih sebenarnya White Spot Syndrome Virus (WSSV)?
White Spot Syndrome Virus (WSSV) adalah salah satu penyakit berbahaya yang dapat menyerang udang, baik udang liar maupun udang budidaya. Virus ini awalnya terdeteksi di tiga negara Asia, yaitu Taiwan, Jepang, dan Korea, kemudian menyebar ke sebagian besar negara penghasil udang di Asia dan Amerika. Hal tersebut dikarenakan virus ini sangat mudah menular dan sering menyebabkan kematian massal pada udang, terutama pada tambak dengan kepadatan yang tinggi. Virus ini biasanya muncul ketika kondisi tambak sedang tidak stabil, misalnya kualitas air menurun, suhu air turun mendadak, pakan kurang baik, atau terjadi pergantian air dalam jumlah besar secara tiba-tiba.
Apa ciri-ciri udang yang terinfeksi White Spot Syndrome Virus (WSSV)?
Tanda paling mudah dikenali dari penyakit ini adalah munculnya bercak-bercak putih pada kulit atau cangkang udang. Jenis udang yang paling sering terinfeksi oleh tanda ini, yiatu udang Monodon, dibandingkan dengan udang Vannamei. Selain itu, udang yang terinfeksi biasanya terlihat lemas, nafsu makan menurun, tubuh kemerahan, kulit menjadi lunak, usus tengah kosong, serta banyak udang mati yang terlihat di pinggir kolam. Jika tidak ditangani dengan cepat, penyebaran penyakit dapat berlangsung sangat cepat di setiap kolam.
Lantas, apa dampaknya bagi para petambak?
White Spot Syndrome Virus (WSSV) dapat menyerang pada semua tahap kehidupan udang, mulai dari telur, larva, benur, hingga udang dewasa. Namun, tingkat kematian paling tinggi biasanya terjadi pada udang muda. Meskipun virus ini tidak berbahaya bagi manusia dan udang yang terinfeksi tetap aman dikonsumsi, dampaknya dapat sangat merugikan untuk petambak karena dapat menyebabkan gagal panen dalam waktu singkat, dan membuat nilai jual udang menurun. Hal ini tentunya akan memperburuk kondisi ekonomi petambak karena biaya yang dikeluarkan untuk budidaya udang oleh petambak tidak sebanding dengan hasil yang didapatkan petambak.
Lalu, apa yang petambak perlu lakukan?
Pencegahan dan pengendalian White Spot Syndrome Virus (WSSV) sangat bergantung pada deteksi dini dan manajemen tambak yang baik. Petambak dapat melakukan pemeriksaan laboratorium seperti uji PCR untuk mendeteksi virus pada udang sebelum gejala muncul, sehingga petambak memiliki waktu untuk melakukan langkah pencegahan. Langkah-langkah yang dapat dilakukan antara lain meningkatkan aerasi (menambah kadar oksigen), mengurangi pakan, memperketat biosekuriti, serta memprioritaskan panen pada kolam yang terinfeksi agar kerugian tidak semakin besar.
Dengan menjaga kualitas air pada tambak, mengurangi stres pada udang, serta melakukan pemantauan kesehatan secara rutin, maka risiko serangan White Spot Syndrome Virus (WSSV) dapat ditekan. Meskipun penyakit ini sulit dihilangkan sepenuhnya, tetapi dengan pengelolaan tambak yang baik dan kewaspadaan sejak dini, petambak masih dapat melindungi usaha budidaya udangnya dari kerugian yang besar.
Sumber:
Extension, F. et al. (2022) ‘Variability of White Spot Syndrome Virus (WSSV) Envelope Protein VP28 from Diseased Shrimp (Litopenaeus vannamei) in Indonesia’, 51(9), pp. 2777–2790.
Genics (2026) ‘White Spot Syndrome Virus (WSSV)’, p. 3. Available at: www.genics.com.
Paz, A.S. (2010) ‘Review article White spot syndrome virus : an overview on an emergent concern’, 41(43). Available at: https://doi.org/10.1051/vetres/2010015.
