Pernahkah Anda melihat udang yang mati secara bertahap dan ekornya memutih? Nah, itu bisa saja dikarenakan oleh penyakit yang paling merugikan dalam budidaya udang, yaitu penyakit IMNV atau biasanya dikenal dengan sebutan penyakit ”ekor putih”. Penyakit ini disebabkan oleh virus yang secara khusus menyerang jaringan otot udang, terutama otot lurik yang berperan penting dalam pergerakan dan kekuatan tubuh udang. Berbeda dengan penyakit yang langsung menyerang pencernaan atau insang, IMNV bekerja dengan merusak otot dari dalam. Oleh karena itu, petambak perlu mengetahui secara mendalam terkait penyakit ini, cara mencegah, dan cara mengatasinya. Yuk, pelajari Infectious Myonecrosis Virus (IMNV).
Apa sih sebenarnya Infectious Myonecrosis Virus (IMNV)?
Infectious Myonecrosis Virus (IMNV) merupakan sebuah virus yang menyerang jaringan otot pada udang (khususnya otot lurik, yaitu otot rangka dan otot jantung). Selain itu, virus ini juga dapat menyerang beberapa organ vital pada udang lainnya, seperti sel darah udang, limfoid(pusat respons imun udang), dan jaringan ikat (jaringan yangmenopang struktur tubuh udang). Ketika jaringan-jaringan tersebut rusak, maka kemampuan udang untuk bergerak dan bertahan hidup akan menurun secara drastis. Petambak perlu waspada karena infeksi IMNV paling sering menyerang jenis udang vannamei, windu, esculentus (udang tiger coklat), dan merguiensis (udang jerbung). Di lapangan, kondisi ini terlihat jelas sebagai perubahan warna otot pada udang yang menjadi putih, terutama di bagian ekor. Pada infeksi IMNV yang berat, kematian bisa mencapai 40 hingga lebih dari 70 persen dari isi kolam. Artinya, kematian massal pada udang tidak dapat dihindari karena infeksi virus ini, khususnya pada kolam dengan tingkat kepadatan yang tinggi.
Virus IMNV pertama kali dilaporkan menyerang udang vannamei di Brasil pada tahun 2002. Beberapa tahun kemudian, penyakit ini terdeteksi di Indonesia pada tahun 2006, lalu menyebar ke negara lain seperti Malaysia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa virus IMNV di Indonesia memiliki kemiripan genetik lebih dari 99% dengan strain dari Brasil, yang mengindikasikan bahwa penyakit ini kemungkinan masuk melalui pergerakan induk atau benur udang antarnegara. Studi terbaru bahkan menemukan bahwa udang windu liar dari Samudra Hindia juga terdeteksi positif IMNV, menunjukkan bahwa virus ini tidak hanya menjadi masalah di tambak, tetapi juga ada di lingkungan alami.
Observasi di lapangan menunjukkan bahwa mengatasi infeksi IMNV pada udang akan jauh lebih sulit dibandingkan dengan penyakit yang disebabkan virus lainnya, seperti IHHNV, YHV1, WSSV, dan Taura Syndrome Virus (TSV). Meskipun telah menggunakan metode desinfeksi kolam yang umum dilakukan, yaitu salah satunya pengeringan dengan sinar matahari, ada kemungkinan bahwa virus IMNV akan tetap hidup dalam saluran pencernaan dan feses burung laut yang memakan udang sakit atau mati akibat infeksi Infectious Myonecrosis Virus (IMNV) ini.
Artinya, infeksi IMNV tergolong sulit untuk dikendalikan karena penyebarannya yang cepat dan sulit diprediksi. Peneliti sampai saat ini masih mencari tahu cara untuk menyelesaikan permasalahan yang timbul dari infeksi IMNV pada udang.
Lantas, Apa Ciri-Ciri Udang yang Terinfeksi IMNV?
Infeksi IMNV pada udang, sering kali timbul pada fase juvenil hingga menjelang panen. Sering kali dipicu oleh stres, perubahan air, panen parsial, atau cuaca ekstrem. Ciri-ciri yang timbul dari infeksi IMNV pada udang yang biasanya muncul pada setiap fase tersebut yang perlu diketahui oleh petambak, antara lain sebagai berikut:
- Otot dan ekor udang berubah menjadi putih
- Pada infeksi berat, warna otot bisa berubah menjadi merah-oranye akibat kerusakan dan pembusukan jaringan, bahkan saat udang masih hidup
- Tubuh tampak pucat atau keputihan
- Udang terlihat lemah dan berenang lambat
- Kematian pada udang terjadi perlahan namun terus meningkat selama beberapa hari
Apa Dampak Negatifnya Terhadap Petambak?
Dapat diketahui bahwa infeksi IMNV sangat berbahaya untuk udang dan petambak. Kematian massal yang ditimbulkan dapat mengurangi nilai jual pada udang sehingga petambak dapat mengalami kerugian yang besar akibat virus ini. Oleh karena itu, petambak perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran virus ini dengan mempelajari cara memitigasi penyebaran virus ini.
Lalu, Bagaimana Cara Mitigasi Penyebaran Infeksi IMNV?
Agar dapat menghindari kerugian ekonomi yang cukup besar. Oleh karena itu, petambak dapat melakukan beberapa langkah strategis untuk memitigasi penyebaran infeksi IMNV. Berikut ini merupakan langkah-langkah strategis yang dapat dilakukan oleh petambak:
- Deteksi Dini dengan Shrimp MultiPath PCR: Alarm Sebelum Kerugian
Deteksi dini dengan menggunakan Shrimp MultiPath PCR, dapat menjadi pengingat kepada petambak hingga empat minggu sebelum tanda-tanda klinis muncul dan sebelum terjadinya kematian massal pada udang. Langkah ini, sangat dianjurkan untuk petambak yang melakukan budidaya untuk tujuan komersial atau bisnis. Pengujian dapat dilakukan secara konsisten pada induk udang, benur, dan udang pembesaran. Petambak dapat menggunakan benur yang negatif dari infeksi IMNV dan telah teruji secara laboratorium. Sekali lagi, bahwa pengujian Shrimp MultiPath PCR bukan digunakan untuk pengobatan, tapi digunakan sebagai sistem peringatan dini yang memberi petambak waktu untuk menyiapkan langkah-langkah strategis untuk memitigasi penyebaran infeksi IMNV. Langkah-langkah tersebut, antara lain seperti menunda penebaran benur baru, membuang benur yang positif terinfeksi, menyiapkan panen lebih awal, dan mengatur kembali manajemen tambak sebelum wabah membesar.
- Manajemen pakan dan kepadatan yang tepat
Petambak dapat mengatur kembali terkait kualitas pakan yang digunakan dan waktu pemberian pakan. Selain itu, pengaturan tingkat kepadatan pada setiap kolam perlu diatur dengan baik, agar tingkat stress pada udang tidak tinggi. Udang yang stres akan jauh lebih cepat terinfeksi suatu penyakit, termasuk infeksi IMNV.
- Meningkatkan biosekuriti pada tambak
Petambak dapat meningkatkan kebersihan pada tambak, seperti membersihkan peralatan budidaya setelah pemakaian, dan alat tidak dipakai silang antar kolam untuk mencegah penyebaran suatu penyakit.
- Melaporkan penyakit ke petambak lainnya
Petambak cenderung takut jika melaporkan adanya penyakit yang terjadi pada tambaknya, karena akan dianggap sebagai sumber dari permasalahan. Padahal, ketakutan tersebut lah yang membuat permasalahan akan semakin besar. Penyebaran penyakit pada udang itu sangat cepat dan bisa melalui banyak faktor yang saling terhubung antar satu tambak dengan tambak yang lain, contohnya kualitas air. Oleh karena itu, dengan adanya pelaporan yang tercipta antar tambak, maka akan membuat tambak yang belum terinfeksi dapat melakukan pencegahan sejak dini. Artinya kerugian ekonomi yang dapat terjadi akibat penyakit dapat dicegah oleh petambak. Saling dukung dan saling membantu merupakan kunci kesuksesan tambak.
Lantas, bagaimana jika infeksi IMNV telah terlanjur menyerang udang? Apa langkah mengurangi penyebarannya?
Jika petambak telah mengetahui bahwa infeksi IMNV pada udang telah terjadi, maka petambak dapat melakukan strategi berikut ini untuk mengurangi penyebaran penyakit ke udang yang masih sehat:
- Membuang udang sakit atau mati untuk mencegah kanibalisme,
- Mengurangi kepadatan melalui panen parsial (dengan hati-hati),
- Menghindari aktivitas yang memicu stres,
- Memisahkan dan mensterilkan peralatan kolam,
- Memperketat biosekuriti di sekitar tambak terinfeksi.
Langkah-langkah tersebut merupakan upaya untuk mengurangi penyebaran pada udang yang masih sehat, bukan langkah pengobatan. Langkah strategis tersebut ditujukan untuk petambak agar dapat mengurangi potensi kerugian besar dari adanya infeksi IMNV yang telah terjadi.
Penutup:
IMNV bukan penyakit yang datang dengan tanda-tanda yang besar, tetapi secara diam-diam, tanpa ada yang dapat memprediksinya. Infeksi IMNV dapat berkembang setelah udang mengalami stress, lalu meninggalkan kerugian besar bagi para petambak. Oleh karena itu, panduan teknis ini menegaskan satu hal, yaitu lebih cepat mengetahui, maka lebih cepat melakukan pencegahan penyebaran infeksi IMNV. Dengan melakukan beberapa pendekatan strategis, seperti deteksi dini berbasis Shrimp MultiPath PCR, meningkatkan kualitas manajemen pakan dan kepadatan, meningkatkan biosekuriti, dan rutin melakukan pelaporan penyakit ke tambak lainnya, akan sangat membantu petambak agar menghindari atau mengurangi kerugian. Kerjasama antar petambak diperlukan untuk bersama-sama meningkatkan kesejahteraan para petambak di Indonesia.
Sumber:
Genics (2026) ‘Infectious Myonecrosis Virus (IMNV)’, pp. 1–3. Available at: www.genics.com.
Teixeira, J. et al. (2025) ‘Viral mutations and their implications for genetic diversity of the Infectious Myonecrosis Virus ( IMNV )’, Journal of Invertebrate Pathology, 211(April), p. 108325. Available at: https://doi.org/10.1016/j.jip.2025.108325.
Yang, M. et al. (2024) ‘Evaluation of combined disinfection methods of infectious myonecrosis virus ( IMNV ) in seawater using Pacific white shrimp ( Penaeus vannamei )’, Aquaculture, 590(February), p. 741063. Available at: https://doi.org/10.1016/j.aquaculture.2024.741063.
